Wednesday, October 28, 2015

PELANGI KECIL


Anak kecil berambut basah. Lari ring dipinggir pantar. Ia menatap jauh melampaui samudra luas. “Warna langit berselimut jingga, ketika aku menyapa dunia”. Anak itu mulai merapal mantra mengusir jenuh yg mengusik.

“Anakku.....!”ucap sang ibu yg berdiri memegang tangannya. “Lihatlah......! mata merah yg membakar di sana. Apa kau melihat keindahan? Tanyanya.

“Iya ibu. Keindahan yang lebih teduh dari rumput yang hijau, keindahan yang lebih nyaman dari dawai angin kesejukan, keindahan yang lebih jelita dari bidadari angkasa, keindahan yang lebih menyentuh dari pada pasir di kakiku” ucap sang anak sambil menatap tajam pada mata itu.

NYANTRI


Ibu.....
Tidakkah aku terlalu kecil bagimu
Membiarkan ku berpisah demi ilmu
Belum genap 10 tahun dalam pangkuamu
Kini aku harus jauh darimu....

Nak......
Menuntut ilmu tak pandang usia
Sejak bayi kau sudah dikenalkan agama
Pemahaman tak tergantung kecerdasan akal semata
Ia ditiupkan oleh yang Maha Kekal dan Kuasa
Ibu.......
Bagaimana aku tidur tanpa kidung shalawatmu
Bagaimana aku makan tanpa suapan kasihmu
Bagaimana aku bangun tanpa dengar suara cintamu
Bagaimana ibu....
Nak.......
Dipesantren kau akan terbiasa dengan suara ayat suci
Yang dilantunkan setiap hari
Tidurlah dengan ayat kursi
Makanlah dengan penuh kasih ilahi rabbi
Bangunlah dengan shalawat pada nabi.
Jangan lupa nak.......! jangan lupa...!
Ciumlah tangan kyai dan gurumu dengan takdhim
Jangan mengambli hak orang lain,
Membenci dan mencaci itu dhalim
Berbagilah apapun kebaikan yang bisa kamu bagi
Jadikan semua santri saudaramu
Pengganti kedua orang tuamu.
Dan Jangan membantah titah guru.

Tuesday, October 27, 2015

KISAH CINTA SEORANG SANTRI



Disebuah pagi yang tak cerah
Dengan gulungan pakaian kotor dalam sarung yang dipintal
Melangkah riang menuju mata air tempat para santri mencuci.

Lana Firdaus baru Dua hari masuk masa pubernya
Bersama senyum mentari yang baru terbit
Matanya silau menguning
Melihat lintasan wajah berjilbab terang
Lana terpaku malu dan takut ingin menyapa
Hanya lirikan sebentar saja sang wanita
Lana girang tak karuan.
Ia lari kembali ke bilik bambu tempat ia mengadu
Kertas dan pena sudah melekat di tangannya
Dilemparkan cucian yang dipundaknya
Beberapa bait kata tertuang begitu saja
"Wahai bidadadari putri sang Fajar...
Tanpa nama kau akan ku kenang
Dibalik bilik bambu pagar pembatas kesopanan

Thursday, October 22, 2015

GINA (8) MENGEJA SENJA



Ketika wanita mulai curiga, laki-laki akan benar-benar kesulitan menemukan penjelasan yang sempurna. Kecurigaan wanita membuat kejujuran dan kebohongan seperti tampak serupa. Namun aku hanya tesenyum saja, melihat pertanyaan istriku yang terus menggoda. “Akh..........pertanyaan itu kembali mengingatkanku ke Jakarta, Gina Perempuan yang mengeja senja”.

Lelah seperti memijat seluruh tubuhku, memaksaku keluar dari keramaian dan kemacetan lalu lintas dikawasan Jakarta Selatan,  di sebuah makam aku terduduk menghadap deretan kuburan, bukan kematian yang aku ingat, pandanganku tertuju pada matahari yang mulai bernjak pergi, siluet warna jingganya perlahan membentuk sebuah pesona. Aku hanya menikmati begitu saja, sesekali aku teguk air dari kaleng lusuh yang kubawa.

Tiba-tiba, didepanku berdiri perempuan berkerudung kuning keemasan menatap ke arah yang sama. Ia berdiri tepat diantara aku dan mentari sore hari. Aku tak ingin kehilangan moment ini, senja sebentar lagi tiba. Aku hanya beringsut beberapa meter saja, membuka sudut pandang baru. Aneh.....perempuan itu malah membuat panorama senja semakin penuh dengan dinamika. Hem.....ingin ku abadikan moment ini, tapi tak lama kemudian wanita itu berpaling dan menyapaku. 

Monday, October 19, 2015

GINA (7) : PERLINTASAN JIWA

Malam itu suasa begitu sunyi, bahkan anginpun enggan bertiup, namun udara begitu dingin dan terasa begitu menggigit dikulit. Sejenak diantara tidur dan sadar, ku tarik kembali selibut tebal menghangati tubuhku, lalu aku kembali terlelap, menyulam kembali mimpi-mimpi yang pernah mampir tak sempurna. “Akh…..mimpi seperti sebuah lintasan jiwa, yang ketika ia lewat susah kembali dirunut dari awal,”.

“Suamiku…………! Bangunlah….!” Suara itu seperti terdengar dalam sebuah mimpi, ku melihat wajah istriku yang sedang memakai mukena berwarna putih tampak berpendar cahaya berkilauan, bahkan mataku seakan tak mampu menatapnya. “Suami…..!” ucapnya lagi. Suaranya begitu lembut dan renyah, seperti sebuah musik yang membuatku semakin ingin terus terlelap.

Kemudian ku rasakan setetes air dikeningku yang begitu dingin, namun begitu lembut ketika hingga di dahiku seperti embun. Lalu ku buka mataku, suara panggilan istriku ternyata bukan mimpi, ia telah duduk disampingku sembari tersenyum di tangannya kirinya ia menggemgam gelas berisi air.

Saturday, October 17, 2015

Gina (6) PENARI ANGKASA

Hening…..! malam baru saja melalui separuh perjalanannya, nyaris semua mata sudah terpejam, terlelap dalam mimpi-mimpi dan harapan. Tapi malam itu, ditengah kesunyian yang mencekam, angin berbisik lembut di celah kecil jendela ruang kamar Gina, ia masih berusaha untuk terlelap, namun usahanya selalu gagal.

Seperti ada suara ketukan di jendela, ia terperanjat sesaat, namun ia kembali tenang setelah ia tahu ranting pohon mangga di terpa angin melambai seakan memanggil Gina untuk menghampirinya. Gina masih diam, pikirannya masih terus menari-nari di angkasa, membentuk sebuah siluet kabur tentang masa depan hidupnya.

Pernikahan…! Akh…..” keluhnya, kalimat itu kini menjelma menggelisahkan. Sejuta tanya yang selalu ada tersimpat dalam kata yang cukup keramat. Ia kembali mengingat tawaran pernikahan oleh ayahnya, namun hal itulah yang menjadi awal mula persoalannya malam ini. “Dengan siapa aku akan menikah? Lalu apakah aku akan mencintainya? Lebih dulu mana sebenarnya cinta dan pernikahan? Mencintai lalu menikah, apa menikah lalu mencintai? Bagaimana kalau aku menikah dengan orang yang sampai akhir hayatku aku tidak mencintainya?” pertanyaan tersebut tersusun terus menerus tanpa henti. “Akh….!!!” Keluhnya lagi.

Thursday, October 15, 2015

Gina (5), TIGA SUDUT CINTA YANG BERBEDA

“Assalamualaikum, Sahabatku….!!!! Bolehkan aku mencurimu dari istrimu untuk sebentar saja, mungkin hanya 30 menit atau satu jam, aku hanya ingin bertutur cerita dan bertanya kabar tentang kelurga mungilmu, ya sekalian ingin memberikan  kado pernikahan yang tertunda, Kutunggu kamu dimana kamu bersedia menemui diriku,”

Fajar tampaknya baru saja mau menyingsing ketika kubaca sms itu dari Gina, hem….nama ini memang sempat hilang dalam hidupku walaupun tak sepenuhnya pergi. “Gina….Gina….!!!” keluhku dalam hati, “Ok…!!! Kita ketemu ditempat terdekat dengan dirimu ataupun dengan diriku, atau kita bisa ketemu di tengah-tengah, agar jarak perjalan kita jadi adil,” jawabku ketika itu.

“Hei…..!!! Kamu baru bangun…!!! Itu sms dua jam yang lalu, kemanakah dirimu ketika semua mata terpejam dan para malaikat menaruh perhatian lebih pada mereka yang terbangun dan berdoa di malam hari..!!! apakah Istrimu sudah merampas hak mu untuk begadang dengan kegelapan…., hehehehehe Pis” jawabmu. Dan aku hanya tersenyum.

“Jawabannya akan aku jelaskan nanti ketika kita ketemu, OK..!! Aku Shalat dulu,” jawabku singkat.

Gina (4) : AKU dan SEMESTA KECILNYA.

Sudah tiga purnama, aku tak lagi melihat wajah Gina, setelah pertemuan terakhir di taman pelangi Surabaya, Gina menghilang begitu saja, padahal ia berjanji untuk menemuiku lagi, tapi lagi-lagi janji memang selalu dengan keingkaran, yang kadang-kadang waktu pun tak memberikan kesempatan untuk menjelaskan alasan. Tapi apapun itu, tetaplah sebuah janji.

Sore itu, senja baru saja pergi,dan bumi ini menyambut datangnya purnama ke empat di bulan Januari. Bulan seakan terlambat datang, namun kombinasi sinar putih dan kuning emasnya telah mengangkasa membentuk sebuah siluet indah di belahan timur semesta. Tapi bulan itu tetap menyembunyikan jasadnya dari pandangan mataku, walaupun dia tak kehilangan hakekatnya di hatiku. Ya purnama dan keindahannya selalu menyatu, dan senantiasa menyapa manusia dengan tatapan pandangan yang sayu.

Aku telentangkan tubuhku di atas hamparan rumput hijau taman kota yang sempit itu, namun walaupun sempit, ia memberikan kesejukan dan ketenangan yang luar biasa ditengah-tengah hiruk pikuknya kendaraan bermesin, ambisi yang tiada habisnya, dan kesibukan warganya yang tak ada batasnya. Entahlah…!! Sejak kapan kesibukan itu seakan menjadi indentias baru dari ke-aku-an manusia. Sehingga kesuksesan pun kadang kala diukur dari sejauh mana kesibukan yang mereka miliki.

Wednesday, October 14, 2015

GINA (3) SIAPA DIRIMU?

Hari itu, aku tak ingin bekerja, aku hanya ingin jalan-jalan menyusuri kota Jakarta, selama hampir dua tahun aku belum menemukan keindahan Kota Mitropolitan ini. Ibu Kota Jakarta, seharusnya sebijak ibuku, seindah ibuku, dan selembut ibuku. Tapi Jakarta terlalu emosional, gelisah, riuh dan penuh dengan ambisi-ambisi besar namun pertimbangan-pertimbangan yang kecil. Akhirnya terciptalah kemudharatan-kemudaratan kecil yang lama-lama bertumpuk menjadi besar dan terus membesar.

Di taman Monas, aku menghentikan sepeda motorku, aku parkir di tempat yang telah di sediakan dan mencari tempat terteduh dan tersepi di taman itu. Namun aku tak kehilangan ujung dari tugu yang dibangun pemerintahan Soekarno tersebut. Hem……..aku ingin merasakan Jakarta ini berbeda, hari ini hari terakhirku di Jakarta, akan ku serap semua keindahan kota ini dan kubawa untuk menjadi sejarah dalam hidupku.

GINA (2); PEREMPUAN PERENUNG.

Sore itu Jakarta tampak terasa lebih dingin, hujan baru saja reda, tapi gerimisnya masih ada, langit nyaris cerah, gumpalan awan hitam berubah warna jadi putih terang bersemu warna jingga kena terpaan sinar senja. Aku lari-lari kecil menuju taman, dimana aku dan Gina berjanji kembali bertemu. Aku harap aku tak terlambat, karena ini janji pertamaku. Aku khawatir keterlambatanku mengubah penilaiannya kepadaku, walaupun aku tidak tahu dia menilaiku seperti apa.

“Hem……terlambat 10 menit”, ujar Gina ketika melihat kedatanganku. Pastinya aku tampak kaget dan agak gerogi dikit. Aku tarik nafas pelan-pelan sebelum mengambil posisi duduk di sampingnya, jaraknya masih sama 1 meter di kursi yang panjangnya 3 meter. Kali ini dia memakai jilbab warna biru langit, dengan motif warna putih di ujungnya, sementara ia memakai baju putih agak panjang dengan celana warna seragam dengan kerudungnya. “seperti langit”. Kali ini aku memanggilnya “Perempuan Perenung”.

GINA (1) ; GADIS PURNAMA

Aku memanggilnya “Purnama pada gadis berjilbab  warna merah itu, walaupun ia sebenarnya seperti sebuah mawar, pastinya lebih mirip mawar dari pada purnama jika dilihat dari kerudungnya, karena mawar ada yang merah dan ada pula yang putih. Sementara “puranama” adalah bulan tanggal 15 hijriah. Bentuknya bulat sempurna.

Tapi aku tetap memanggilnya Purnama, bukan karena wajahnya yang bulat sempurna, tapi karena wajahnya selalu memberikan keteduhan sempurna. Aku tak bilang ia cantik atau manis, tapi yang pasti dia menarik ku untuk terus memperhatikan dan membayangkannya. Sekilas sih memang tampak judes, tapi lama-lama sikapnya itu adalah bentuk lain untuk memproteksi dirinya dari godaan laki-laki liar. Jadi aku suka ke-judes-annya.

Tuesday, October 13, 2015

MENGEJA KEBIJAKSANAAN SEORANG IBU

23 tahun yang silam, lahirlah seorang anak disebuah desa yang nun jauh dikepulauan sana, dari rahim seorang ibu yang mendamba sesuatu yang sederhana, hingga ia pun hidup sederhana, makan dan minum apa adanya, hartapun tak lagi ada di tumpukannya, dan seringkali menasehati anaknya dengan bijaksana.

Pada saat usia 13 tahun, anak itu mulai berpikir keras mengeja kebijaksanaan seorang ibu, sang ibu berkata “Nak….sesungguhnya hidup ini indah, tenang, dan damai. Tapi tak semua orang bias melihat dan merasakannya, karena keindahan hidup terletak pada ketulusan, kesabaran, kejujuran dan keadilan.”

Sang anakpun duduk terdiam menyimak kata-kata ibunya, yang jelas belum dia rasakan. Karena selama ini, ia tak pernah bermain tembak-tembakan, tak punya mobil-mobilan, tak punya kapal-kapalan. Diapun merasa kebingunan, rotipun tak pernah ia pegang, pesawatpun hanya bisa ia pandang, liat TV pun dia jarang-jarang. Sang ibu mengerti reaksi anaknya.

Monday, October 12, 2015

MEMBACA CINTA

Sedikit berfikir  filosofis membaca cinta, aku kembali memikirkan kata-kata yang tak asing ditelinga kita, ya… “CINTA”, kata yang tak menemukan definisi yang mutlak sampai saat ini, karena kata ini dipahami seseuai dengan pemahaman yang memahami, jadi serba subjetif.

Akan tetapi bagiku,…cinta itu adalah Ruh dalam siklus kehidupan semesta ini, disamping itu cinta mengiringi setiap proses dan tujuan dari segala aktivitas alam ini. Jadi cinta adalah proses sekaligus tujuan dalam hidup ini. Itulah uniknya cinta, bahkan itulah kekayaan makna cinta.

Dari pemahaman ini, dapat dikatakan bahwa tak ada tujuan lain dari cinta kecuali cinta itu sendiri. Artinya jika ada seseorang yang mencintai sesuatu akan tetapi dia memiliki tujuan yang lain, maka orang itu suatu saat akan tersakiti oleh cinta, dan dia telah mengotori eksistensi cinta yang mustahil melahirkan rasa benci. Jadi cinta itu suci.

Kesucian cinta—menurutku—terletak pada ketulusan dan keutuhan konsentrasi kita terhadap objek yang kita cintai. Jadi selama cinta menjadi proses dan tujuan, disitulah kesucian cinta menjelma.

PEMUDA CERDAS, MEMBUAT SYETAN MERASA GOBLOK

Konon disebuah disebuah negeri antah berantah sana, hiduplah seorang pemuda yang sejak kecil ia dibesarkan dilingkungan pesantren. Secara otomatis ia banyak menimba ilmu agama di sana. Selama dia disana dikenal sebagai santri yang baik dan taat beribadah. (pemuda cerdas, membuat syetan merasa goblok)

Sepuluh tahun kemudian ia pergi ke kota untuk menimba ilmu di sana tapi dia terpedaya oleh kehidupan kota yang jauh berbeda dengan lingkungan pesantrennya. Singkat cerita ia pun sudah mulai suka minum-minuman keras bersama teman-teman barunya, kediskotik, main judi dan togel, serta sering taruhan pada setiap ada pertandingan bola. Tapi satu hal yang tak pernah ia lakukan yaitu berzinah dengan perempuan.

Hingga pada suatu ketika ia sadar akan apa yang selama ia lakukan, kesadaran itu hadir ketika dia dalam kondisi sakit yang begitu kritis, bahkan selama tujuh hari tujuh malam ia terbaring di tempat tidurnya. Hingga pada suatu malam ia bermimpi didatangi seorang kyai yang menyuruhnya untuk bangun dan sholat. Mimpi itu terus menghantuinya hingga ia sembuh.

MEMBACA WANITA SEBAGAI BUKU PERTAMA

Jika ada buku yang tak pernah selesai untuk dibaca maka buku itu adalah “wanita”, wanita seperti lautan ilmu yang orang-orang pandai pun banyak yang gagal memahaminya. Kegagalan pemahaman tersebut sebenarnya tak lepas dari eksistensi dasar seorang wanita yang bahan ciptaannya dari tulang rusuk laki-laki yang paling bengkok. Tulang rusuk ini memang rentan untuk patah atau tumbuh menjadi “penyakit” yang cukup parah.
Rasulullah mengatakan bahwa “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah baik kepada wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara filosofis, membaca “wanita” tidaklah sama dengan membaca buku-buku yang pada umumnya terdiri dari kumpulan huruf, kata, dan kalimat. Wanita bukanlah huruf, ia juga bukan hanya sekedar kata atau kalimat, tapi wanita jauh lebih luas dari hal tersebut, karena itulah memahami wanita tidak hanya dibutuhkan kekuatan berpikir semata, tapi juga dibutuhkan kepakaan rasa dan kejernihan hati.

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...