
Disebuah pagi yang tak cerah
Dengan gulungan pakaian kotor dalam sarung yang dipintal
Melangkah riang menuju mata air tempat para santri mencuci.
Lana Firdaus baru Dua hari masuk masa pubernya
Bersama senyum mentari yang baru terbit
Matanya silau menguning
Melihat lintasan wajah berjilbab terang
Lana terpaku malu dan takut ingin menyapa
Hanya lirikan sebentar saja sang wanita
Lana girang tak karuan.
Ia lari kembali ke bilik bambu tempat ia mengadu
Kertas dan pena sudah melekat di tangannya
Dilemparkan cucian yang dipundaknya
Beberapa bait kata tertuang begitu saja
"Wahai bidadadari putri sang Fajar...
Tanpa nama kau akan ku kenang
Dibalik bilik bambu pagar pembatas kesopanan
Kau melirikku dengan sejuta kesan
Tak peduli kau suka atau benci benci
aku berani berkata pada dunia.
Aku jatuh Cinta...................!!"
Lana lalu linglung luka-luka
Setiap pagi ia pergi mencuci
Walau akhirnya hanya berakhir terpaku berdiri
Ditempat ia melihat sang putri yang tak pernah ia temui lagi.
Begitulah ia mencinta
Memeluk pena membelai kata
Berkencan dengan aksara
Romantis pula ia selalu bertanya. "Apa itu CINTA?"
Matanya silau menguning
Melihat lintasan wajah berjilbab terang
Lana terpaku malu dan takut ingin menyapa
Hanya lirikan sebentar saja sang wanita
Lana girang tak karuan.
Ia lari kembali ke bilik bambu tempat ia mengadu
Kertas dan pena sudah melekat di tangannya
Dilemparkan cucian yang dipundaknya
Beberapa bait kata tertuang begitu saja
"Wahai bidadadari putri sang Fajar...
Tanpa nama kau akan ku kenang
Dibalik bilik bambu pagar pembatas kesopanan
Kau melirikku dengan sejuta kesan
Tak peduli kau suka atau benci benci
aku berani berkata pada dunia.
Aku jatuh Cinta...................!!"
Lana lalu linglung luka-luka
Setiap pagi ia pergi mencuci
Walau akhirnya hanya berakhir terpaku berdiri
Ditempat ia melihat sang putri yang tak pernah ia temui lagi.
Begitulah ia mencinta
Memeluk pena membelai kata
Berkencan dengan aksara
Romantis pula ia selalu bertanya. "Apa itu CINTA?"
No comments:
Post a Comment