Thursday, November 17, 2016

GINA (9) KETIKA ISTRI SEPERTI HUJAN



“Kita tak perlu kemewahan untuk membuat hidup kita itu indah, yang terpenting adalah kita saling ada untuk satu dan yang lainnya, dan kita saling membuat kita selalu nyaman di mana pun kita berada, itulah yang aku impikan darimu suamiku,” ucapmu kala itu, seakan kamu mengerti kegundahan hatiku yang merasa tak mampu memberikan tempat terbaik bagimu. Rumah kita ini cukup kecil, tapi kau mengatakan “rumah kita cukup mungil”, kamu memilih kata “mungil” karena memang terkesan lebih indah dan lucu dari pada kata “kecil”.

Waktu itu malam telah larut, tapi kita berdua masih duduk di atas sejadah lusuh yang wangi, mukenamu sudah tampak pucat tapi sinar purnama memberikan kesan berbeda ketika ia membalut tubuhmu, kamu begitu anggun dan senyummu membuat semesta tampak ceria. Semesta itu adalah hatiku.

Di atas langgar kecil yang tak berdinding, yang kita bangun di belakang rumah mungil kita, aku masih ingat ketika kita membangun langar itu, kamu menanam bunga-bunga mawar disekelilingnya, dan tak lupa menitipkan bibit melati ke bumi di pojok surau panggung kita, hingga pohonnya merambat ke tiang penyangga surau itu.

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...