“Kita tak perlu kemewahan untuk membuat
hidup kita itu indah, yang terpenting adalah kita saling ada untuk satu dan yang
lainnya, dan kita saling membuat kita selalu nyaman di mana pun kita berada,
itulah yang aku impikan darimu suamiku,” ucapmu kala itu, seakan kamu mengerti
kegundahan hatiku yang merasa tak mampu memberikan tempat terbaik bagimu. Rumah
kita ini cukup kecil, tapi kau mengatakan “rumah kita cukup mungil”, kamu
memilih kata “mungil” karena memang terkesan lebih indah dan lucu dari pada
kata “kecil”.
Waktu itu malam telah larut, tapi kita
berdua masih duduk di atas sejadah lusuh yang wangi, mukenamu sudah tampak
pucat tapi sinar purnama memberikan kesan berbeda ketika ia membalut tubuhmu,
kamu begitu anggun dan senyummu membuat semesta tampak ceria. Semesta itu
adalah hatiku.
Di atas langgar kecil yang tak
berdinding, yang kita bangun di belakang rumah mungil kita, aku masih ingat
ketika kita membangun langar itu, kamu menanam bunga-bunga mawar
disekelilingnya, dan tak lupa menitipkan bibit melati ke bumi di pojok surau
panggung kita, hingga pohonnya merambat ke tiang penyangga surau itu.