Thursday, October 22, 2015

GINA (8) MENGEJA SENJA



Ketika wanita mulai curiga, laki-laki akan benar-benar kesulitan menemukan penjelasan yang sempurna. Kecurigaan wanita membuat kejujuran dan kebohongan seperti tampak serupa. Namun aku hanya tesenyum saja, melihat pertanyaan istriku yang terus menggoda. “Akh..........pertanyaan itu kembali mengingatkanku ke Jakarta, Gina Perempuan yang mengeja senja”.

Lelah seperti memijat seluruh tubuhku, memaksaku keluar dari keramaian dan kemacetan lalu lintas dikawasan Jakarta Selatan,  di sebuah makam aku terduduk menghadap deretan kuburan, bukan kematian yang aku ingat, pandanganku tertuju pada matahari yang mulai bernjak pergi, siluet warna jingganya perlahan membentuk sebuah pesona. Aku hanya menikmati begitu saja, sesekali aku teguk air dari kaleng lusuh yang kubawa.

Tiba-tiba, didepanku berdiri perempuan berkerudung kuning keemasan menatap ke arah yang sama. Ia berdiri tepat diantara aku dan mentari sore hari. Aku tak ingin kehilangan moment ini, senja sebentar lagi tiba. Aku hanya beringsut beberapa meter saja, membuka sudut pandang baru. Aneh.....perempuan itu malah membuat panorama senja semakin penuh dengan dinamika. Hem.....ingin ku abadikan moment ini, tapi tak lama kemudian wanita itu berpaling dan menyapaku. 

“Hei.....kamu kok ada di sini?” tanyanya seperti tampak ragu, mungkin ia lupa kita pernah bertemu. “Gina.....!” jawabku singkat, Ia hanya tersenyum, tapi aku tak ingin beranjak menghampirinya, ku biarkan ia mendatangiku, dan mengambil tempat tak jauh di sampingku. 

“Apa yang ingin dilakukan oleh waktu kepada kita?” tanyanya, namun tatapannya masih tertuju pada senja.  
“Siapa yang kau sebut kita?” tanyaku penasaran, aku menatapnya, tapi ia hanya melirik saja. Lirikan yang cukup tajam, yang memalingkan perhatianku padanya, aku tak lagi peduli pada senja, rona wajahnya seperti matahari diselemuti awan putih yang tipis, hingga garsi batas sinar dan cahanya begitu jelas.

“Beberapa waktu yang lalu, waktu mempertemukan kita di taman, tapi sekarang kita dipertemukan di kuburan” ucapnya, masih tetap tanpa melihatku. Membuatku semakin penasaran. “Ok...! mari kita bertukar kata tanpa harus saling bertetap muka, walau kita sama-sama tidak di dunia maya” jawabku, saling melempar pertanyaan yang lahir dari pertanyaan hati kita masing-masing.

“Lihatlah senja itu, kita bertukar rasa tanpa harus banyak kata,” jawabanya.
“Ya.... tapi kita harus menatapnya, itu juga berarti kita dan senja saling bertatap muka” jawabku, “begitulah aku mengaguminya, aku pengagum senja” tambahku.

“Aku pengagum senja, itu kalimatku kenapa kau ambil?” tanyanya. Ia lalu berpaling menatapku penuh selidik.
“Aku lebih dulu mengucapkannya, apakah kita harus bertengkar masalah itu?” ucapku melawan tatapan matanya.
“Aku berdiri didepanmu dan mengagumi senja itu” jawabnya.

“Ya tapi kamu tidak tahu, kalau aku lebih dulu menatap senja, sebelum kau berdiri didepanku menjadi kembarannya,” jawabku singkat. Mataku kembali menikmati senja yang begitu cepat turun, dan semakin indah, aku tahu Gina menatapku, tapi aku sengaja kali ini membiarkannya menikmati pandangannya.

“Kini aku bingung, senja yang mana yang harus aku perhatikan, ketika keduanya sama-sama indah dan menarik, padahal tadi sebelum kau berpaling aku seperti melihat matahari kembar yang sama-sama surut menyusuri ujung bumi, ujung kehidupan” jelasku. Aku kembali menatap Gina, tapi kini ia tersipu dan tertunduk, dan aku tak mengerti.

“Senja ujung kehidupan...! aku tertarik kata-kata itu, ujung kehidupan yang indah. Jika Fajar adalah kelahiran yang segar, terik matahari adalah semangat yang membara, maka senja adalah ujung kehidupan yang bijaksana” jelasnya.

“Hem....kata-katamu lebih hebat lagi. Kau membacanya dengan begitu utuh,”
“Seperti ibuku......! akulah fajarnya.......ayahku adalah terik penuh semangat,” sambung Gina.
“Apakah hal itu juga berhubungan dengan kedatanganmu ke makam ini?” tanyaku

“Ya aku bersilaturrahim kepada ibu, biasanya kami menikmati senja bersama di kebun,” jawabnya sambil tersenyum, tapi garisnya seperti kenangan indah yang menyedihkan jika diingat. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Gina kemudian sepertinya ia tak ingin larut dalam perasaannya.

“Mengingat kematian, tapi lihatlah aku menamukan keindahan di rumah yang paling aku takutkan, Ajaib....” ucapku, lalu aku bangkit merapikan tas ranselku yang kumal.

“Keindahan apa yang kau maksudkan?” tanyanya penasaran, matanya kembali menatapku dengan tajam. Aku pun menatapnya tapi dengan pandangan yang ringan, aku ingin menyelami samudra kegelapan yang mengintari titip putih bercahaya dikedua matanya.

“Keindahan Senja, Keindahan Gina, dan Keindahan Gina Membaca Senja,” ucapku sambil terus berlalu meninggalkan Gina yang masih terpaku menatapku. “Di ujung batas kuburan itu, aku menatapnya, memberikan senyuman termanis yang pernah aku miliki, tapi aku sendiri ragu akan hal itu sebelum Gina akhirnya membalasnya dengan senyum yang lebih manis. Akan kuingat senyum itu, “Senang berbicara dengan mu, Kuharap waktu tak bosan mempertemukan kita, dimanapun tempat yang ia pilih” ucapku mengakhiri pertemuan itu. (bersambung)


  


No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...