Ketika wanita mulai curiga,
laki-laki akan benar-benar kesulitan menemukan penjelasan yang sempurna. Kecurigaan
wanita membuat kejujuran dan kebohongan seperti tampak serupa. Namun aku hanya
tesenyum saja, melihat pertanyaan istriku yang terus menggoda. “Akh..........pertanyaan
itu kembali mengingatkanku ke Jakarta, Gina Perempuan yang mengeja senja”.
Lelah seperti memijat seluruh
tubuhku, memaksaku keluar dari keramaian dan kemacetan lalu lintas dikawasan Jakarta
Selatan, di sebuah makam aku terduduk
menghadap deretan kuburan, bukan kematian yang aku ingat, pandanganku tertuju
pada matahari yang mulai bernjak pergi, siluet warna jingganya perlahan
membentuk sebuah pesona. Aku hanya menikmati begitu saja, sesekali aku teguk air
dari kaleng lusuh yang kubawa.
Tiba-tiba, didepanku berdiri
perempuan berkerudung kuning keemasan menatap ke arah yang sama. Ia berdiri
tepat diantara aku dan mentari sore hari. Aku tak ingin kehilangan moment ini,
senja sebentar lagi tiba. Aku hanya beringsut beberapa meter saja, membuka
sudut pandang baru. Aneh.....perempuan itu malah membuat panorama senja semakin
penuh dengan dinamika. Hem.....ingin ku abadikan moment ini, tapi tak lama
kemudian wanita itu berpaling dan menyapaku.
“Hei.....kamu kok ada di sini?”
tanyanya seperti tampak ragu, mungkin ia lupa kita pernah bertemu. “Gina.....!”
jawabku singkat, Ia hanya tersenyum, tapi aku tak ingin beranjak
menghampirinya, ku biarkan ia mendatangiku, dan mengambil tempat tak jauh di
sampingku.
“Apa yang ingin dilakukan oleh
waktu kepada kita?” tanyanya, namun tatapannya masih tertuju pada senja.
“Siapa yang kau sebut kita?”
tanyaku penasaran, aku menatapnya, tapi ia hanya melirik saja. Lirikan yang
cukup tajam, yang memalingkan perhatianku padanya, aku tak lagi peduli pada
senja, rona wajahnya seperti matahari diselemuti awan putih yang tipis, hingga
garsi batas sinar dan cahanya begitu jelas.
“Beberapa waktu yang lalu, waktu mempertemukan
kita di taman, tapi sekarang kita dipertemukan di kuburan” ucapnya, masih tetap
tanpa melihatku. Membuatku semakin penasaran. “Ok...! mari kita bertukar kata
tanpa harus saling bertetap muka, walau kita sama-sama tidak di dunia maya”
jawabku, saling melempar pertanyaan yang lahir dari pertanyaan hati kita
masing-masing.
“Lihatlah senja itu, kita bertukar
rasa tanpa harus banyak kata,” jawabanya.
“Ya.... tapi kita harus
menatapnya, itu juga berarti kita dan senja saling bertatap muka” jawabku, “begitulah
aku mengaguminya, aku pengagum senja” tambahku.
“Aku pengagum senja, itu
kalimatku kenapa kau ambil?” tanyanya. Ia lalu berpaling menatapku penuh
selidik.
“Aku lebih dulu mengucapkannya,
apakah kita harus bertengkar masalah itu?” ucapku melawan tatapan matanya.
“Aku berdiri didepanmu dan
mengagumi senja itu” jawabnya.
“Ya tapi kamu tidak tahu, kalau
aku lebih dulu menatap senja, sebelum kau berdiri didepanku menjadi
kembarannya,” jawabku singkat. Mataku kembali menikmati senja yang begitu cepat
turun, dan semakin indah, aku tahu Gina menatapku, tapi aku sengaja kali ini
membiarkannya menikmati pandangannya.
“Kini aku bingung, senja yang
mana yang harus aku perhatikan, ketika keduanya sama-sama indah dan menarik,
padahal tadi sebelum kau berpaling aku seperti melihat matahari kembar yang
sama-sama surut menyusuri ujung bumi, ujung kehidupan” jelasku. Aku kembali
menatap Gina, tapi kini ia tersipu dan tertunduk, dan aku tak mengerti.
“Senja ujung kehidupan...! aku
tertarik kata-kata itu, ujung kehidupan yang indah. Jika Fajar adalah kelahiran
yang segar, terik matahari adalah semangat yang membara, maka senja adalah
ujung kehidupan yang bijaksana” jelasnya.
“Hem....kata-katamu lebih hebat
lagi. Kau membacanya dengan begitu utuh,”
“Seperti ibuku......! akulah
fajarnya.......ayahku adalah terik penuh semangat,” sambung Gina.
“Apakah hal itu juga berhubungan
dengan kedatanganmu ke makam ini?” tanyaku
“Ya aku bersilaturrahim kepada
ibu, biasanya kami menikmati senja bersama di kebun,” jawabnya sambil
tersenyum, tapi garisnya seperti kenangan indah yang menyedihkan jika diingat. “Apa
yang kau lakukan di sini?” tanya Gina kemudian sepertinya ia tak ingin larut
dalam perasaannya.
“Mengingat kematian, tapi
lihatlah aku menamukan keindahan di rumah yang paling aku takutkan, Ajaib....”
ucapku, lalu aku bangkit merapikan tas ranselku yang kumal.
“Keindahan apa yang kau
maksudkan?” tanyanya penasaran, matanya kembali menatapku dengan tajam. Aku pun
menatapnya tapi dengan pandangan yang ringan, aku ingin menyelami samudra
kegelapan yang mengintari titip putih bercahaya dikedua matanya.
“Keindahan Senja, Keindahan Gina,
dan Keindahan Gina Membaca Senja,” ucapku sambil terus berlalu
meninggalkan Gina yang masih terpaku menatapku. “Di ujung batas kuburan itu,
aku menatapnya, memberikan senyuman termanis yang pernah aku miliki, tapi aku
sendiri ragu akan hal itu sebelum Gina akhirnya membalasnya dengan senyum yang
lebih manis. Akan kuingat senyum itu, “Senang berbicara dengan mu, Kuharap
waktu tak bosan mempertemukan kita, dimanapun tempat yang ia pilih” ucapku
mengakhiri pertemuan itu. (bersambung)

No comments:
Post a Comment