Monday, October 19, 2015

GINA (7) : PERLINTASAN JIWA

Malam itu suasa begitu sunyi, bahkan anginpun enggan bertiup, namun udara begitu dingin dan terasa begitu menggigit dikulit. Sejenak diantara tidur dan sadar, ku tarik kembali selibut tebal menghangati tubuhku, lalu aku kembali terlelap, menyulam kembali mimpi-mimpi yang pernah mampir tak sempurna. “Akh…..mimpi seperti sebuah lintasan jiwa, yang ketika ia lewat susah kembali dirunut dari awal,”.

“Suamiku…………! Bangunlah….!” Suara itu seperti terdengar dalam sebuah mimpi, ku melihat wajah istriku yang sedang memakai mukena berwarna putih tampak berpendar cahaya berkilauan, bahkan mataku seakan tak mampu menatapnya. “Suami…..!” ucapnya lagi. Suaranya begitu lembut dan renyah, seperti sebuah musik yang membuatku semakin ingin terus terlelap.

Kemudian ku rasakan setetes air dikeningku yang begitu dingin, namun begitu lembut ketika hingga di dahiku seperti embun. Lalu ku buka mataku, suara panggilan istriku ternyata bukan mimpi, ia telah duduk disampingku sembari tersenyum di tangannya kirinya ia menggemgam gelas berisi air.

 “Akh....ternyata istriku meneteskan air bekas wuduknya di wajahku,” lalu aku pun tersenyum sembari berusaha memuluknya, namun secepat kilat ia menghindar seakan tak mau disentuh.

Aku pun kembali gagal menggapai kehangatan dekapannya. “Kenapa kamu tak mau di peluk?” tanyaku sembari tetap memejamkan mata.
“Bukalah matamu dulu, biar kau tahu sedang memeluk siapa?” jawabnya.
“Emangnya ada siapa lagi di kamar ini selain dirimu?”
“Memang di sini tidak ada siapa-siapa, aku hanya tak ingin kau peluk lalu kau anggap itu bermimpi, peluklah aku dengan penuh kesadaranmu, bukalah matamu!” ujar istriku.

Aku langsung berbalik telentang dan membuka mata, perih rasanya, tapi terus ku paksa berkedip-kedip sedemikian hingga pada akhirnya rasa perihnya hilang. Dan kini kulihat istriku seperti seorang bidadari yang bercahaya, wajahnya begitu lembut dan menenangkan, senyumnyapun menghilangkan rasa kantukku.

“Kenapa kamu begitu cantik malam ini…?” tanyaku tampak heran.

“Itu sudah biasa ku dengar ketika kau terbangun dari tidurmu, sekarang ayo berdirilah! dan cepat ambil wudhuk, aku juga ingin melihat suamiku terlihat tampan,” ucapnya sembari tersenyum begitu manis.

Mendengar jawabannya, aku melihat jam di dinding kamarku yang menunjukan jam 3 dini hari. “Alhamdulillah….!” Syukurku, lalu aku pun langsung menuju kamar mandi. Sehabis shalat malam, kami pun seperti biasanya duduk di teras rumah, sembari melihat langit, menikmati bintang, bulan, suasana malam, hingga adzan subuh berkumandang.

“Suamiku….., langit selalu indah untuk dipandang?” tanya Istriku menyela kesunyian kami.
“Kita sudah pernah membahasnya Istriku,” jawabku.
“Tapi aku ingin jawaban yang berbeda, bukankah setiap pertanyaan, selalu memiliki banyak jawaban?” tanyanya balik.
“Kalau begitu, aku ingin tahu jawabannya darimu?”
“Huuuuft……!” Istriku menghela nafas panjang, lalu ia menutup kedua matanya. “Karena langit adalah seperti perlintasan jiwa, langit adalah tempat dimana jiwa diseluruh semesta ini bertemu. Aku melihat bintang seperti aku menemukan setitik cahaya yang nun jauh di sana, tapi dalam jiwaku sendiri cahaya itu sebenarnya terpancar, keindahan langit akan lebih terasa jika kita memandangnya tidak hanya sekedar dengan mata dan lensa, tapi dengan terbukanya jiwa kita pada semesta dan pencipta,”

Kata-kata dari istriku mengalir begitu deras dan penuh makna, bahkan aku pun harus berpikir keras untuk memahami maknanya. Namun yang menarik, ia menjelaskan itu semua ketika matanya tertutup.

“Bagaimana kamu bisa menjelaskannya, semantara kedua matamu tertutup?” tanyaku padanya.
Ia kemudian melirikku dengan genit, lirikan yang jarang aku dapatkan. “Ketika matamu tertutup apa yang kaulihat dengan hatimu itulah pandangan yang sebenarnya, pandangan hati tidak hanya melahirkan bentuk dan warna, namun juga menghasilkan dimensi rasa, bukankah kamu pernah bilang kalau mata tidak bisa menjelaskan rasa, bahkan mata tak bisa menggambarkan keindahan dari apa yang ia pandang sendiri,” jawab istriku.

“Tumben kamu cerdas….?” Ucapku
“Bersyukurlah….aku sudah banyak belajar kecerdasan darimu, hehehe….” Jawabnya sembil tersenyum. “Sekarang aku mau tanya, kenapa setiap kali bangun tidur, kau selalu bilang kepadaku ‘begitu cantik’ bahkan kata itu keluar ketika kesadaranmu belum sempurna? Kadang-kadang kamu bilang sebelum matamu terbuka, dan aku tahu ketika aku bangun tidur wajahku berantakan.”

“Itu terjadi karena aku melihatmu dengan pandangan hatiku, hati dan mata memang berbeda dalam hal pandangan seperti yang talah kamu katakan. Ketika mata memandang ia selalu membutuhkan kehadiran dalam jarak yang tepat dalam jangkauannya, mata tak bisa melihat keindahan sebuah bentuk, rupa dan warna ketika yang dipandang jauh dari jangkauannya, seperti halnya wajahmu yang setiap saat selalu berbeda di mata, ketika kamu bangun tidur, pada saat kamu sedang tidur, setelah habis mandi, berdandan, habis bekerja, apalagi sehabis memasak. Itu tentunya berbeda-beda, tapi wajahmu tetap dalam bentuk yang serupa,” jelasku.

“Hem……., kalau pandangan mata butuh kehadiran, apakah pandangan hati tidak butuh kehadiran juga?” tanyanya.

“Pandangan hati tidak tergantung pada kehadiran yang dipandang, bukan tidak butuh, hadir atau tidaknya yang dipandang, pandangan hati akan memberikan gambaran yang sejati. Bukan hanya kecantikan wajah dan bentuk tubuh, tapi juga kebaikan prilaku, keindahan sikap, serta kesejukan jiwa bisa dilihat dan dirasakan oleh hati, sehingga untuk mengatakan ‘kamu cantik’ saya tidak butuh kehadiranmu di depan saya, karena ‘kecantikan’ dalam bahasa hati tidak terikat pada ruang dan waktu. Sekarang kamu cantik dalam pandangan mata dan hati, tapi ketika sudah nenek-nenek nanti hanya hati yang mampu menangkap kecantikan di balik wajahmu yang keriput dan renta,” jawabku.

“Apakah kamu sedemikian besar mencintaiku, suamiku…?” tanyanya lagi, ia kemudian menyandarkan kepalanya di pundaku dengan begitu lembut.

“Awas aku punya wudhuk,” protesku.
“Tenang, kita masih di batas aman, kulit kita tidak akan bersentuhan, tapi kalau jiwa yang bersentuhan apa itu membuat wuduk jadi batal, tidak kan…?, sekarang jawab pertanyaanku itu,” lanjut istriku.

“Andaikan cinta bisa di timbang, itu tentunya timbangan yang cukup besar, yang bahkan harus lebih besar dari semesta, karena Cinta tuhan-lah semesta ini ada, lalu bagaimana kita bisa mengetahui besarnya cinta sementara besarnya semesta tidak mampu kita ketahui?”

“Lalu lebih besar mana cintamu padaku dan cintamu pada Gina?” tanya Istriku yang menyentakkan kesadaranku, aku langsung ingin melihat wajahnya, tapi tangannya memegang erat lenganku.

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya, tapi untunglah adzan subuh, membebaskanku dari pertanyaannya yang memenjara. “Ayo kita shalat sunnah fajar, sudah adzan subuh,” ucapku kemudian.

Lalu kami pun beranjak dari tempat kami dudukk sementara istriku terus memegan erat lenganku. Untungnya malah itu aku memakai baju lengan panjang hingga wuduk kami tetap terpelihara.

“Jangan cemberut, tarik nafas dulu yang panjang, kosongkan pikiranmu, saatnya kita menghadap Allah,” ucapku ketika itu merubah wajah istriku yang tampak kecewa.

“Aku mengenal Gina sebelum aku memutuskan menikah dengan dirimu, untuk sementara, itu dulu jawabannya, karena tidak lucu kamu bawa pertanyaanmu ke dalam shalat, OK..!” mendengar ucapanku tersebut, istriku tersenyum dan kita pun langsung kembali shalat. (bersambung)

2 comments:

  1. Dari segi isi, ini bagus. Tapi kalau dari segi penulisan, banyak yang mesti diperbaiki. Keep writing, Mas! :)

    ReplyDelete
  2. terima kasih masukannya dik....!! maklum masih newbee....

    ReplyDelete

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...