Malam itu suasa begitu sunyi, bahkan anginpun enggan bertiup, namun
udara begitu dingin dan terasa begitu menggigit dikulit. Sejenak
diantara tidur dan sadar, ku tarik kembali selibut tebal menghangati
tubuhku, lalu aku kembali terlelap, menyulam kembali mimpi-mimpi yang
pernah mampir tak sempurna. “Akh…..mimpi seperti sebuah lintasan jiwa,
yang ketika ia lewat susah kembali dirunut dari awal,”.
“Suamiku…………!
Bangunlah….!” Suara itu seperti terdengar dalam sebuah mimpi, ku
melihat wajah istriku yang sedang memakai mukena berwarna putih tampak
berpendar cahaya berkilauan, bahkan mataku seakan tak mampu menatapnya.
“Suami…..!” ucapnya lagi. Suaranya begitu lembut dan renyah, seperti
sebuah musik yang membuatku semakin ingin terus terlelap.
Kemudian
ku rasakan setetes air dikeningku yang begitu dingin, namun begitu
lembut ketika hingga di dahiku seperti embun. Lalu ku buka mataku, suara
panggilan istriku ternyata bukan mimpi, ia telah duduk disampingku
sembari tersenyum di tangannya kirinya ia menggemgam gelas berisi air.
“Akh....ternyata
istriku meneteskan air bekas wuduknya di wajahku,” lalu aku pun
tersenyum sembari berusaha memuluknya, namun secepat kilat ia menghindar
seakan tak mau disentuh.
Aku pun kembali gagal menggapai kehangatan dekapannya. “Kenapa kamu tak mau di peluk?” tanyaku sembari tetap memejamkan mata.
“Bukalah matamu dulu, biar kau tahu sedang memeluk siapa?” jawabnya.
“Emangnya ada siapa lagi di kamar ini selain dirimu?”
“Memang
di sini tidak ada siapa-siapa, aku hanya tak ingin kau peluk lalu kau
anggap itu bermimpi, peluklah aku dengan penuh kesadaranmu, bukalah
matamu!” ujar istriku.
Aku langsung berbalik telentang dan
membuka mata, perih rasanya, tapi terus ku paksa berkedip-kedip
sedemikian hingga pada akhirnya rasa perihnya hilang. Dan kini kulihat
istriku seperti seorang bidadari yang bercahaya, wajahnya begitu lembut
dan menenangkan, senyumnyapun menghilangkan rasa kantukku.
“Kenapa kamu begitu cantik malam ini…?” tanyaku tampak heran.
“Itu
sudah biasa ku dengar ketika kau terbangun dari tidurmu, sekarang ayo
berdirilah! dan cepat ambil wudhuk, aku juga ingin melihat suamiku
terlihat tampan,” ucapnya sembari tersenyum begitu manis.
Mendengar
jawabannya, aku melihat jam di dinding kamarku yang menunjukan jam 3
dini hari. “Alhamdulillah….!” Syukurku, lalu aku pun langsung menuju
kamar mandi. Sehabis shalat malam, kami pun seperti biasanya duduk di
teras rumah, sembari melihat langit, menikmati bintang, bulan, suasana
malam, hingga adzan subuh berkumandang.
“Suamiku….., langit selalu indah untuk dipandang?” tanya Istriku menyela kesunyian kami.
“Kita sudah pernah membahasnya Istriku,” jawabku.
“Tapi aku ingin jawaban yang berbeda, bukankah setiap pertanyaan, selalu memiliki banyak jawaban?” tanyanya balik.
“Kalau begitu, aku ingin tahu jawabannya darimu?”
“Huuuuft……!”
Istriku menghela nafas panjang, lalu ia menutup kedua matanya. “Karena
langit adalah seperti perlintasan jiwa, langit adalah tempat dimana jiwa
diseluruh semesta ini bertemu. Aku melihat bintang seperti aku
menemukan setitik cahaya yang nun jauh di sana, tapi dalam jiwaku
sendiri cahaya itu sebenarnya terpancar, keindahan langit akan lebih
terasa jika kita memandangnya tidak hanya sekedar dengan mata dan lensa,
tapi dengan terbukanya jiwa kita pada semesta dan pencipta,”
Kata-kata
dari istriku mengalir begitu deras dan penuh makna, bahkan aku pun
harus berpikir keras untuk memahami maknanya. Namun yang menarik, ia
menjelaskan itu semua ketika matanya tertutup.
“Bagaimana kamu bisa menjelaskannya, semantara kedua matamu tertutup?” tanyaku padanya.
Ia
kemudian melirikku dengan genit, lirikan yang jarang aku dapatkan.
“Ketika matamu tertutup apa yang kaulihat dengan hatimu itulah pandangan
yang sebenarnya, pandangan hati tidak hanya melahirkan bentuk dan
warna, namun juga menghasilkan dimensi rasa, bukankah kamu pernah bilang
kalau mata tidak bisa menjelaskan rasa, bahkan mata tak bisa
menggambarkan keindahan dari apa yang ia pandang sendiri,” jawab
istriku.
“Tumben kamu cerdas….?” Ucapku
“Bersyukurlah….aku
sudah banyak belajar kecerdasan darimu, hehehe….” Jawabnya sembil
tersenyum. “Sekarang aku mau tanya, kenapa setiap kali bangun tidur, kau
selalu bilang kepadaku ‘begitu cantik’ bahkan kata itu keluar ketika
kesadaranmu belum sempurna? Kadang-kadang kamu bilang sebelum matamu
terbuka, dan aku tahu ketika aku bangun tidur wajahku berantakan.”
“Itu
terjadi karena aku melihatmu dengan pandangan hatiku, hati dan mata
memang berbeda dalam hal pandangan seperti yang talah kamu katakan.
Ketika mata memandang ia selalu membutuhkan kehadiran dalam jarak yang
tepat dalam jangkauannya, mata tak bisa melihat keindahan sebuah bentuk,
rupa dan warna ketika yang dipandang jauh dari jangkauannya, seperti
halnya wajahmu yang setiap saat selalu berbeda di mata, ketika kamu
bangun tidur, pada saat kamu sedang tidur, setelah habis mandi,
berdandan, habis bekerja, apalagi sehabis memasak. Itu tentunya
berbeda-beda, tapi wajahmu tetap dalam bentuk yang serupa,” jelasku.
“Hem……., kalau pandangan mata butuh kehadiran, apakah pandangan hati tidak butuh kehadiran juga?” tanyanya.
“Pandangan
hati tidak tergantung pada kehadiran yang dipandang, bukan tidak butuh,
hadir atau tidaknya yang dipandang, pandangan hati akan memberikan
gambaran yang sejati. Bukan hanya kecantikan wajah dan bentuk tubuh,
tapi juga kebaikan prilaku, keindahan sikap, serta kesejukan jiwa bisa
dilihat dan dirasakan oleh hati, sehingga untuk mengatakan ‘kamu cantik’
saya tidak butuh kehadiranmu di depan saya, karena ‘kecantikan’ dalam
bahasa hati tidak terikat pada ruang dan waktu. Sekarang kamu cantik
dalam pandangan mata dan hati, tapi ketika sudah nenek-nenek nanti hanya
hati yang mampu menangkap kecantikan di balik wajahmu yang keriput dan
renta,” jawabku.
“Apakah kamu sedemikian besar
mencintaiku, suamiku…?” tanyanya lagi, ia kemudian menyandarkan
kepalanya di pundaku dengan begitu lembut.
“Awas aku punya wudhuk,” protesku.
“Tenang,
kita masih di batas aman, kulit kita tidak akan bersentuhan, tapi kalau
jiwa yang bersentuhan apa itu membuat wuduk jadi batal, tidak kan…?,
sekarang jawab pertanyaanku itu,” lanjut istriku.
“Andaikan
cinta bisa di timbang, itu tentunya timbangan yang cukup besar, yang
bahkan harus lebih besar dari semesta, karena Cinta tuhan-lah semesta
ini ada, lalu bagaimana kita bisa mengetahui besarnya cinta sementara
besarnya semesta tidak mampu kita ketahui?”
“Lalu lebih
besar mana cintamu padaku dan cintamu pada Gina?” tanya Istriku yang
menyentakkan kesadaranku, aku langsung ingin melihat wajahnya, tapi
tangannya memegang erat lenganku.
Aku hanya tersenyum
mendengar pertanyaannya, tapi untunglah adzan subuh, membebaskanku dari
pertanyaannya yang memenjara. “Ayo kita shalat sunnah fajar, sudah adzan
subuh,” ucapku kemudian.
Lalu kami pun beranjak dari
tempat kami dudukk sementara istriku terus memegan erat lenganku.
Untungnya malah itu aku memakai baju lengan panjang hingga wuduk kami
tetap terpelihara.
“Jangan cemberut, tarik nafas dulu yang
panjang, kosongkan pikiranmu, saatnya kita menghadap Allah,” ucapku
ketika itu merubah wajah istriku yang tampak kecewa.
“Aku
mengenal Gina sebelum aku memutuskan menikah dengan dirimu, untuk
sementara, itu dulu jawabannya, karena tidak lucu kamu bawa pertanyaanmu
ke dalam shalat, OK..!” mendengar ucapanku tersebut, istriku tersenyum
dan kita pun langsung kembali shalat. (bersambung)
Dari segi isi, ini bagus. Tapi kalau dari segi penulisan, banyak yang mesti diperbaiki. Keep writing, Mas! :)
ReplyDeleteterima kasih masukannya dik....!! maklum masih newbee....
ReplyDelete