Monday, October 12, 2015

MEMBACA WANITA SEBAGAI BUKU PERTAMA

Jika ada buku yang tak pernah selesai untuk dibaca maka buku itu adalah “wanita”, wanita seperti lautan ilmu yang orang-orang pandai pun banyak yang gagal memahaminya. Kegagalan pemahaman tersebut sebenarnya tak lepas dari eksistensi dasar seorang wanita yang bahan ciptaannya dari tulang rusuk laki-laki yang paling bengkok. Tulang rusuk ini memang rentan untuk patah atau tumbuh menjadi “penyakit” yang cukup parah.
Rasulullah mengatakan bahwa “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah baik kepada wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara filosofis, membaca “wanita” tidaklah sama dengan membaca buku-buku yang pada umumnya terdiri dari kumpulan huruf, kata, dan kalimat. Wanita bukanlah huruf, ia juga bukan hanya sekedar kata atau kalimat, tapi wanita jauh lebih luas dari hal tersebut, karena itulah memahami wanita tidak hanya dibutuhkan kekuatan berpikir semata, tapi juga dibutuhkan kepakaan rasa dan kejernihan hati.


Wanita (ibu) adalah “madrasatul uula” atau sekolah pertama bagi manusia. Setiap manusia yang lahir dan menyapa dunia, dia harus melalui sebuah tempat pertapaan (rahim) yang manjadi medan perantara dari alam yang fitrah menuju alam yang penuh dengan fitnah (dunia). Sehingga dalam perjalannya manusia senantiasa tidak melupakan kefitrahannya sebagai makhluk yang diciptakan dan ditempa ditempat yang penuh dengan lautan kasih sayang (rahim bunda).

Kasih sayang wanita (ibu) tidak ada batasnya, hal ini dapat diekspresikan dalam sebuah kalimat bahwa “Hanya dalam diri wanita berdetak sebuah jantung yang bukan miliknya, hanya wanita yang berbagi makanan melalui mulut, tenggorokan dan ususnya, hanya wanita yang memberikan makanan terbaik bagi kehidupan manusia (ASI), hanya wanita yang berbagi nyawa dengan manusia lainnya, hanya wanita yang mampu memahami bahasa pertama manusia (tangis), dan hanya melalui wanita peradaban manusia tetap terjaga.”

Dalam konteks ini, wanita tidak hanya berperan reproduktif, tapi juga memiliki peran edukatif. Oleh karena itu, peran edukasi pertama yang diberikan wanita pada manusia adalah cinta, karena cinta itulah fitrah manusia, yaitu fitrah yang bermuara pada “Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat 51:49). Cinta yang fitrah adalah cinta yang kembali pada kebesaran yang Maha Mencintai. Dan pendidikan pertama yang mengajarkan tentang hal ini adalah pada bagaimana wanita memberikan kasih sayangnya pada anak-anaknya ketika masih dalam rahimnya.

Melihat penjelasan di atas, maka tugas pertama manusia sebagaimana diwahyukan dalam Alquran surat Al-Alaq ayat pertama adalah “Iqra’” (membaca). Kalau menurut Quraish Shihab (2007:167) dalam bukunya “Membumikan Alquran….” menjelaskan bahwa kata “iqra’”berasal dari kata “qara’a” yang memiliki makna dasar “menghimpun”. Sehingga kata “iqra’” sebenarnya tidak hanya sekedar berarti membaca sebagaimana membaca teks di buku-buku dan lainnya. Tapi “iqra’” juga “menelaah, meneliti, mengamati, mendalami,” dan lain sebagainya. Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa perintah membaca dalam ayat di atas tidak hanya berlaku untuk Rasulullah, namun juga berlaku kepada manusia secara umum. 

Dalam hal ini penulis sendiri memahami bahwa yang dimaksud membaca di sini adalah membaca semua hal, baik secara tekstual ataupun kontekstual yang didasari atau diawali dengan kepasrahan kepada Allah.
Oleh karena itu, sebagai manusia, maka teks dan konteks pertama yang harus dibaca oleh manusia adalah wanita (ibu), memahaminya adalah hal pertama yang harus dilakukan oleh semua manusia, dengan pemahaman itulah akan lahir ketaatan kepadanya, dan dengan ketaatan akan berbuah ridhanya (ibu). Keridhaan seorang ibu merupakan bekal pertama yang harus dimiliki oleh manusia dalam menjalani kehidupan dunia, dan dengan hal itu manusia bisa selamat dari fitnah dunia. Karena jika seorang ibu ridha pada anaknya maka Allah pun akan ridha (Ridhallahu fi ridhal wa lidain).

Sedangkan wanita sebagai teks dan konteks bagi anak-anak mereka harusnya mampu menjadi bahan bacaan yang baik, sehingga anak-anaknya mampu memperoleh pelajaran-pelajaran yang baik dari dirinya. Di sinilah penting bagi wanita untuk terus mempupuk kualitas dirinya sehingga menjadi pantas dan layak untuk dibaca dan dijadikan tempat belajar. Dengan mempelajari wanita kita akan mengetahui tentang cinta, tapi tanpa kebijaksanaan cinta bisa jadi buta, maka mempelajari cinta dari wanita dan belajar bijaksana dari laki-laki. Perpaduan antara cinta dan kebijaksanaan (ibu dan ayah) inilah yang kelak akan menjadi penerang bagi jalan hidup manusia

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...