Jika ada buku yang tak pernah selesai untuk dibaca maka buku itu
adalah “wanita”, wanita seperti lautan ilmu yang orang-orang pandai pun
banyak yang gagal memahaminya. Kegagalan pemahaman tersebut sebenarnya
tak lepas dari eksistensi dasar seorang wanita yang bahan ciptaannya
dari tulang rusuk laki-laki yang paling bengkok. Tulang rusuk ini memang
rentan untuk patah atau tumbuh menjadi “penyakit” yang cukup parah.
Rasulullah mengatakan bahwa “Barangsiapa yang beriman kepada Allah
dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah
kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang
rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau
meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka
akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah baik kepada wanita.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Secara filosofis, membaca “wanita” tidaklah sama dengan membaca
buku-buku yang pada umumnya terdiri dari kumpulan huruf, kata, dan
kalimat. Wanita bukanlah huruf, ia juga bukan hanya sekedar kata atau
kalimat, tapi wanita jauh lebih luas dari hal tersebut, karena itulah
memahami wanita tidak hanya dibutuhkan kekuatan berpikir semata, tapi
juga dibutuhkan kepakaan rasa dan kejernihan hati.
Wanita (ibu) adalah “madrasatul uula”
atau sekolah pertama bagi manusia. Setiap manusia yang lahir dan
menyapa dunia, dia harus melalui sebuah tempat pertapaan (rahim) yang
manjadi medan perantara dari alam yang fitrah menuju alam yang penuh
dengan fitnah (dunia). Sehingga dalam perjalannya manusia senantiasa
tidak melupakan kefitrahannya sebagai makhluk yang diciptakan dan
ditempa ditempat yang penuh dengan lautan kasih sayang (rahim bunda).
Kasih sayang wanita (ibu) tidak ada batasnya, hal ini dapat
diekspresikan dalam sebuah kalimat bahwa “Hanya dalam diri wanita
berdetak sebuah jantung yang bukan miliknya, hanya wanita yang berbagi
makanan melalui mulut, tenggorokan dan ususnya, hanya wanita yang
memberikan makanan terbaik bagi kehidupan manusia (ASI), hanya wanita
yang berbagi nyawa dengan manusia lainnya, hanya wanita yang mampu
memahami bahasa pertama manusia (tangis), dan hanya melalui wanita
peradaban manusia tetap terjaga.”
Dalam konteks ini, wanita tidak hanya berperan reproduktif, tapi juga
memiliki peran edukatif. Oleh karena itu, peran edukasi pertama yang
diberikan wanita pada manusia adalah cinta, karena cinta itulah fitrah
manusia, yaitu fitrah yang bermuara pada “Dan segala sesuatu kami
jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS.
Adz Dzariyaat 51:49). Cinta yang fitrah adalah cinta yang kembali pada
kebesaran yang Maha Mencintai. Dan pendidikan pertama yang mengajarkan
tentang hal ini adalah pada bagaimana wanita memberikan kasih sayangnya
pada anak-anaknya ketika masih dalam rahimnya.
Melihat penjelasan di atas, maka tugas pertama manusia sebagaimana diwahyukan dalam Alquran surat Al-Alaq ayat pertama adalah “Iqra’” (membaca). Kalau menurut Quraish Shihab (2007:167) dalam bukunya “Membumikan Alquran….” menjelaskan bahwa kata “iqra’”berasal dari kata “qara’a” yang memiliki makna dasar “menghimpun”. Sehingga kata “iqra’” sebenarnya tidak hanya sekedar berarti membaca sebagaimana membaca teks di buku-buku dan lainnya. Tapi “iqra’”
juga “menelaah, meneliti, mengamati, mendalami,” dan lain sebagainya.
Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa perintah membaca dalam ayat di
atas tidak hanya berlaku untuk Rasulullah, namun juga berlaku kepada
manusia secara umum.
Dalam hal ini penulis sendiri memahami bahwa yang
dimaksud membaca di sini adalah membaca semua hal, baik secara tekstual
ataupun kontekstual yang didasari atau diawali dengan kepasrahan kepada
Allah.
Oleh karena itu, sebagai manusia, maka teks dan konteks pertama yang
harus dibaca oleh manusia adalah wanita (ibu), memahaminya adalah hal
pertama yang harus dilakukan oleh semua manusia, dengan pemahaman itulah
akan lahir ketaatan kepadanya, dan dengan ketaatan akan berbuah
ridhanya (ibu). Keridhaan seorang ibu merupakan bekal pertama yang harus
dimiliki oleh manusia dalam menjalani kehidupan dunia, dan dengan hal
itu manusia bisa selamat dari fitnah dunia. Karena jika seorang ibu
ridha pada anaknya maka Allah pun akan ridha (Ridhallahu fi ridhal wa
lidain).
Sedangkan wanita sebagai teks dan konteks bagi anak-anak mereka
harusnya mampu menjadi bahan bacaan yang baik, sehingga anak-anaknya
mampu memperoleh pelajaran-pelajaran yang baik dari dirinya. Di sinilah
penting bagi wanita untuk terus mempupuk kualitas dirinya sehingga
menjadi pantas dan layak untuk dibaca dan dijadikan tempat belajar.
Dengan mempelajari wanita kita akan mengetahui tentang cinta, tapi tanpa
kebijaksanaan cinta bisa jadi buta, maka mempelajari cinta dari wanita
dan belajar bijaksana dari laki-laki. Perpaduan antara cinta dan
kebijaksanaan (ibu dan ayah) inilah yang kelak akan menjadi penerang
bagi jalan hidup manusia
No comments:
Post a Comment