Wednesday, July 8, 2015

ASAL MULA LAHIRNYA FILSAFAT



Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang paling unik yang pernah tercipta, dengan segala potensi yang ada manusia akhirnya manjadi makhluk yang paling mulia. Mereka bisa merasa tapi tak sama dengan makhluk lainnya. Merek bisa berpikir, mereka juga bisa merenung. Area merasa, berpikir dan perenungan yang mereka lakukan cukuplah luas, mulai dari dirinya sendiri sebagai wujud makhluk misteri sampai pada semesta yang didalamnya tersimpan rahasia ilahi. itulah bibit awal yang menjadi asal mula lahirnya filsafat.

Dari hal itulah muncullah dalam diri manusia yang disebut sebagai sebuah Thaumasia atau Ketakjuban.  Manusia merasakan ketakjuban pada keajaiban alam semesta yang kaya raya ini, mulai dari matahari yang konsisten dengan terbit dan tenggelamnya serta assesoris cahayanya luar biasa, pada bintang-bintang yang indah dilangit sana, pada cakrawala yang tak ada batasannya serta pada dirinya sendiri yang bisa merasakan ketakjuban dunia.


Karena mereka membutuhkan jawaban rasionalis dari ketakjubannya tersebut lahirlah yang disebut dengan mitaos-mitos, hingga jika ada petir menyambar mereka menganggap dewa sedang kumat atau lagi marah, dan lain sebagainya. Intinya mereka mewujudkan adanya sebuah zat yang maha kuat yang berada diatas sana. Yang mengendalikan dan mengatur semesta.

Tetapi jawaban itu ternyata tak memuaskan manusia. Nah Ketidakpuasan (unsatisfaction) terhadap mitos menyebabkan manusia mencari jawaban yang lebih rasional. Dan inilah salah satu rangkaian penyebab manusia berfilsafat selanjutnya. Semua mitos-mitos tersebut dianggap sesuatu yang mustahil adanya, karena mereka tak bisa membuktikan kebenaranya wujudnya.

Kemudian muncullah beberpa pertanyaan yang mendasar dalam diri manusia tentang asal usul semesta ini. Hasrat Bertanya (sense of curiousity) diakibatkan dari Ketakjuban dan ketidakpuasan membuat manusia, sehingga mereka selalu bertanya-tanya. Pertanyaan inilah yang membuat manusia melakukan pengamatan dan penyelidikan untuk memahami sesuatu.

Namun jawaban yang mereka dapatkan selalu membuat mereka ragu. Aporia atau Keraguan. Terhadap setiap kebenaran yang diperoleh membuat manusia senantiasa menyelidiki hakikat sesuatu hingga menemukan kebenaran yang baru. Usaha ini dilakukan terus menerus sepanjang sejarah peradaban manusia.

Lalu siapakah filosof pertama? Pertanyaan ini kalau dalam sejarah filsafat, orang pertama kali yang bisa dilacak sebagai filosof pertama kali adalah Thales yang merupakan manusia produk peradaban yunani kuno yang hidup sekitar tahun 625 SM-550 SM. Tapi kalau menurut saya manusia yang pertama yang berfilsafat adalah Nabi Ibrahim yang dikisahkan dalam Al-quran tentang Pencarian Tuhan. Silahkan cari sendiri kisahnya.

Kenapa demikian? Karena Nabi Ibrahim telah hidup jauh sebelum Thales hidup. Menurut beberapa tokoh nabi Ibrahim hidup sekitar tahun 2000 SM -1900 SM. Tapi dalam dunia filsafat Thales tetap dikenal sebagai filosof pertama. Manusia pertama yang berpikir tentang asal-asal usul semesta ini, hasil pemikiran thales kemudian di sambut oleh tokoh-tokoh setelahnya. Untuk lebih jelasnya kita lanjutkan nanti di perkenalan tokoh-tokoh filsafat.

Nah pertanyaan thales tersebut kemudian dalam kerangka ilmu filsafat masuk dalam kategori ONTOLOGI, yaitu ilmu filsafat yang membahas tentang asal usul sesuatu terkait denan zat inti pencipta semesta. Tokoh-tokoh filsafat yang berpikir tentang hal ini sangat banyak, khususnya filosof-filosof yunani kuno. Mereka memperdebatkan tentang hakekat ada berserta unsure-unsur yang menciptakan ada tersebut.

Namun jawabannya itu juga dipertanyakan, dari mana mereka tahu bahwa asal usul sesuatu itu adalah dari Air, dari Tanah, Dari Udara dan lainnya.? Dari mana mereka mendapatkan pengetahuan semacam itu? Nah pertanyaan ini kemudian masuk pada kategori EPISTEMOLOGI dalam filsafat yang membahas tentang asal-usul pengetahuan manusia. Yang kemudian dikenal dengan Hekekat Pengetahuan.

Perkembangan selanjutnya manusia tidak hanya bertanya tentang asal usul semesta dan sumber pengetahuan saja, tapi berkembang pada persoalan nilai dari sebuah pengetahuan itu sendiri. Pembahasan mengenai hal ini dikenal dengan AKSIOLOGI, yaitu filsafat yang membahas tentang Hakekat Nilai. *ij

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...