Manusia pada
dasarnya adalah makhluk yang paling unik yang pernah tercipta, dengan
segala potensi yang ada manusia akhirnya manjadi makhluk yang paling
mulia. Mereka bisa merasa tapi tak sama dengan makhluk lainnya. Merek
bisa berpikir, mereka juga bisa merenung. Area merasa, berpikir dan
perenungan yang mereka lakukan cukuplah luas, mulai dari dirinya sendiri
sebagai wujud makhluk misteri sampai pada semesta yang didalamnya
tersimpan rahasia ilahi. itulah bibit awal yang menjadi asal mula lahirnya filsafat.
Dari hal
itulah muncullah dalam diri manusia yang disebut sebagai sebuah
Thaumasia atau Ketakjuban. Manusia merasakan ketakjuban pada keajaiban
alam semesta yang kaya raya ini, mulai dari matahari yang konsisten
dengan terbit dan tenggelamnya serta assesoris cahayanya luar biasa,
pada bintang-bintang yang indah dilangit sana, pada cakrawala yang tak
ada batasannya serta pada dirinya sendiri yang bisa merasakan ketakjuban
dunia.
Karena
mereka membutuhkan jawaban rasionalis dari ketakjubannya tersebut
lahirlah yang disebut dengan mitaos-mitos, hingga jika ada petir
menyambar mereka menganggap dewa sedang kumat atau lagi marah, dan lain
sebagainya. Intinya mereka mewujudkan adanya sebuah zat yang maha kuat
yang berada diatas sana. Yang mengendalikan dan mengatur semesta.
Tetapi
jawaban itu ternyata tak memuaskan manusia. Nah Ketidakpuasan
(unsatisfaction) terhadap mitos menyebabkan manusia mencari jawaban yang
lebih rasional. Dan inilah salah satu rangkaian penyebab manusia
berfilsafat selanjutnya. Semua mitos-mitos tersebut dianggap sesuatu
yang mustahil adanya, karena mereka tak bisa membuktikan kebenaranya
wujudnya.
Kemudian
muncullah beberpa pertanyaan yang mendasar dalam diri manusia tentang
asal usul semesta ini. Hasrat Bertanya (sense of curiousity) diakibatkan
dari Ketakjuban dan ketidakpuasan membuat manusia, sehingga mereka
selalu bertanya-tanya. Pertanyaan inilah yang membuat manusia melakukan
pengamatan dan penyelidikan untuk memahami sesuatu.
Namun
jawaban yang mereka dapatkan selalu membuat mereka ragu. Aporia atau
Keraguan. Terhadap setiap kebenaran yang diperoleh membuat manusia
senantiasa menyelidiki hakikat sesuatu hingga menemukan kebenaran yang
baru. Usaha ini dilakukan terus menerus sepanjang sejarah peradaban
manusia.
Lalu
siapakah filosof pertama? Pertanyaan ini kalau dalam sejarah filsafat,
orang pertama kali yang bisa dilacak sebagai filosof pertama kali adalah
Thales yang merupakan manusia produk peradaban yunani kuno yang hidup
sekitar tahun 625 SM-550 SM. Tapi kalau menurut saya manusia yang
pertama yang berfilsafat adalah Nabi Ibrahim yang dikisahkan dalam
Al-quran tentang Pencarian Tuhan. Silahkan cari sendiri kisahnya.
Kenapa
demikian? Karena Nabi Ibrahim telah hidup jauh sebelum Thales hidup.
Menurut beberapa tokoh nabi Ibrahim hidup sekitar tahun 2000 SM -1900
SM. Tapi dalam dunia filsafat Thales tetap dikenal sebagai filosof
pertama. Manusia pertama yang berpikir tentang asal-asal usul semesta
ini, hasil pemikiran thales kemudian di sambut oleh tokoh-tokoh
setelahnya. Untuk lebih jelasnya kita lanjutkan nanti di perkenalan
tokoh-tokoh filsafat.
Nah
pertanyaan thales tersebut kemudian dalam kerangka ilmu filsafat masuk
dalam kategori ONTOLOGI, yaitu ilmu filsafat yang membahas tentang asal
usul sesuatu terkait denan zat inti pencipta semesta. Tokoh-tokoh
filsafat yang berpikir tentang hal ini sangat banyak, khususnya
filosof-filosof yunani kuno. Mereka memperdebatkan tentang hakekat ada
berserta unsure-unsur yang menciptakan ada tersebut.
Namun
jawabannya itu juga dipertanyakan, dari mana mereka tahu bahwa asal usul
sesuatu itu adalah dari Air, dari Tanah, Dari Udara dan lainnya.? Dari
mana mereka mendapatkan pengetahuan semacam itu? Nah pertanyaan ini
kemudian masuk pada kategori EPISTEMOLOGI dalam filsafat yang membahas
tentang asal-usul pengetahuan manusia. Yang kemudian dikenal dengan
Hekekat Pengetahuan.
Perkembangan
selanjutnya manusia tidak hanya bertanya tentang asal usul semesta dan
sumber pengetahuan saja, tapi berkembang pada persoalan nilai dari
sebuah pengetahuan itu sendiri. Pembahasan mengenai hal ini dikenal
dengan AKSIOLOGI, yaitu filsafat yang membahas tentang Hakekat Nilai. *ij

No comments:
Post a Comment