Sedikit
berfikir filosofis membaca cinta, aku kembali memikirkan kata-kata yang tak
asing ditelinga kita, ya… “CINTA”, kata yang tak menemukan definisi yang
mutlak sampai saat ini, karena kata ini dipahami seseuai dengan
pemahaman yang memahami, jadi serba subjetif.
Akan tetapi
bagiku,…cinta itu adalah Ruh dalam siklus kehidupan semesta ini,
disamping itu cinta mengiringi setiap proses dan tujuan dari segala
aktivitas alam ini. Jadi cinta adalah proses sekaligus tujuan dalam
hidup ini. Itulah uniknya cinta, bahkan itulah kekayaan makna cinta.
Dari
pemahaman ini, dapat dikatakan bahwa tak ada tujuan lain dari cinta
kecuali cinta itu sendiri. Artinya jika ada seseorang yang mencintai
sesuatu akan tetapi dia memiliki tujuan yang lain, maka orang itu suatu
saat akan tersakiti oleh cinta, dan dia telah mengotori eksistensi cinta
yang mustahil melahirkan rasa benci. Jadi cinta itu suci.
Kesucian
cinta—menurutku—terletak pada ketulusan dan keutuhan konsentrasi kita
terhadap objek yang kita cintai. Jadi selama cinta menjadi proses dan
tujuan, disitulah kesucian cinta menjelma.
Disamping
itu, cinta yang suci tidak menuntut adanya syarat apapun terhadap objek
yang kita cintai, karena tak ada alasan dalam cinta kecuali cinta itu
sendiri. Sehingga jika prinsip ini yang kita pakai, maka tak akan ada
rasa cemburu, sakit hati dan kebencian yang disebabkan oleh cinta itu.
Karena pada hakikatnya cinta senantiasa akan berimplikasi pada
kebahagian dan kesenangan bagi kita dan bagi yang kita cintai. Tapi kata
kuncinya disini adalah “ketulusan” yang menjadikan “kesucian cinta”.
Dalam kasus
hubungan antara manusia (laki-laki dan perempuan) kata cinta seringkali
membius mereka untuk memaksakan diri menjadi tidak apa adanya.
Seringkali manusia tampil sebagai sosok yang munafik dihadapan objek
yang dicintainya, mereka gak mau jujur siapa jati dirinya. Contoh kecil
saja, kadang kala manusia sering membohongi dirinya dan yang
dicintainya, dengan alasan tak mau kehilangan cintanya. Atau seingkali
manusia berusaha tampil sebaik mungkin dihapan objek yang dicintainya.
Mereka selalu menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. Padahal dalam
cinta ada nilai kejujuran yang menjadi pondasi awal akan tulusnya rasa
cinta itu.
“cinta
ditolak dukun bertindak” pepatah ini sebenarnya tak ada dalam kamus
cinta. Karena pada hakekatnya cinta tak pernah tertolak. Dalam kasus
hubungan antara laki-laki dan perempuan, sebenarnya jika
cinta—katakanlah bertepuk sebelah tangan—tak disambut oleh objek yang
kita cintai, seringkali mereka putus asa, sakit hati dan stress. Padahal
mereka mengaku cinta, tapi kenapa mereka bersedih. Bagiku rasa yang
demikian itu bukanlah cinta yang suci, bukan cinta yang tulus, karena
cinta yang tulus dan suci adalah sebuah aktivitas pengorbanan diri untuk
terus membiarkan dan memberikan yang terbaik dan apa adanya terhadap
objek yang kita cintai. Jadi jika ada orang bilang cinta sama kita
padahal kita tidak mencintai (menyambut cintanya), kemudian orang itu
sakit hati, maka cintanya itu semu. Cintanya punya alasan dan memiliki
tujuan. Padahal tak ada alasan ataupun tujuan dalam cinta kecuali cinta
itu sendiri.
Dari itulah,
cinta yang tulus pasti sarat dengan pengorbanan, akan tetapi
pengorbanan tersebut melahirkan kebahagian dalam diri kita. Tapi ingat
kebahagian bukanlah tujuan dari cinta melainkan bagian dari cinta,
termasuk juga didalamnya kebaikan dan keindahan.
Ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu buta, bagiku itu ada benarnya, karena dalam cinta kita tidak akan pernah melihat dia itu cantik atau jelek, jahat atau baik, kaya atau miskin dan lain sebagainya. Dengan kebutaan cinta itulah kita nantinya akan menemukan kesucian cinta itu sendiri.
Cinta akan
menerima apa adanya. Kita mencintai dia karena dia memang saya cinta.
Tak ada alasan lain kecuali cinta itu sendri. Toh walaupun pada akhirnya
kita tidak bisa hidup bersama (jodoh) terhadap orang yang kita cintai,
bukan berarti cinta kita mati atau cinta kita ditolak, akan tetapi cinta
kita memang belum tersambut.
Disamping
itu cinta juga bisa berubah tapi tidak hilang, misalnya cinta kita bisa
berubah dari pacar menjadi teman. Dari itulah untuk mengimbangi dan
menjaga gejolak perubahan cinta itu, kita harus pintar-pintar
memeliharanya. Adapun perangkat lunaknya untuk memelihara keutuhan cinta
adalah kejujurang, kepercayaan, keterbukaann dan pengertian.
Perangkat
tersebut, akan lebih terasa jika hubungan cinta sudah tersambut, artinya
antara dia dengan dia sudah saling mencintai. Maka hubungan tersebut
akan terhindar dari virus-virus yang meretakkan keutuhan jika perangkat
lunak diatas telah tertanam dari individu masing-masing.
Jika hal itu
terjadi maka bertemulah dua cinta suci diantara mereka dan akhirnya
akan menjadi cinta yang sejati, yang tak akan terpisahkan sampai akhir
nafas mereka.
Akan tetapi
problem yang sering terjadi adalah, seringkali kita memaksakan kehendak
kita terhadap objek yang kita cintai, untuk begini, untuk begitu dan
lain sebagainya. Hal yang demikian juga akan menjadi embrio retaknya
bangunan cinta tersebut. Maka peran pengertian disini harusnya menjadi
scanner dari kepentingan-kepentingan ego kita terhadap objek yang kita
cintai.
Bagiku dalam
hubungan cinta, kita seharusnya menyatukan dua indvidu menjadi satu
individu yang lain dalam dunia cinta itu, jadi dalam cinta kita harus
mengubur ego aku, atau ego dia, yang ada adalah ego cinta itu sendiri.
EGO CINTA disini adalah gabungan antara kehendak aku dan kehendak dia.
No comments:
Post a Comment