Monday, October 12, 2015

MEMBACA CINTA

Sedikit berfikir  filosofis membaca cinta, aku kembali memikirkan kata-kata yang tak asing ditelinga kita, ya… “CINTA”, kata yang tak menemukan definisi yang mutlak sampai saat ini, karena kata ini dipahami seseuai dengan pemahaman yang memahami, jadi serba subjetif.

Akan tetapi bagiku,…cinta itu adalah Ruh dalam siklus kehidupan semesta ini, disamping itu cinta mengiringi setiap proses dan tujuan dari segala aktivitas alam ini. Jadi cinta adalah proses sekaligus tujuan dalam hidup ini. Itulah uniknya cinta, bahkan itulah kekayaan makna cinta.

Dari pemahaman ini, dapat dikatakan bahwa tak ada tujuan lain dari cinta kecuali cinta itu sendiri. Artinya jika ada seseorang yang mencintai sesuatu akan tetapi dia memiliki tujuan yang lain, maka orang itu suatu saat akan tersakiti oleh cinta, dan dia telah mengotori eksistensi cinta yang mustahil melahirkan rasa benci. Jadi cinta itu suci.

Kesucian cinta—menurutku—terletak pada ketulusan dan keutuhan konsentrasi kita terhadap objek yang kita cintai. Jadi selama cinta menjadi proses dan tujuan, disitulah kesucian cinta menjelma.


Disamping itu, cinta yang suci tidak menuntut adanya syarat apapun terhadap objek yang kita cintai, karena tak ada alasan dalam cinta kecuali cinta itu sendiri. Sehingga jika prinsip ini yang kita pakai, maka tak akan ada rasa cemburu, sakit hati dan kebencian yang disebabkan oleh cinta itu. Karena pada hakikatnya cinta senantiasa akan berimplikasi pada kebahagian dan kesenangan bagi kita dan bagi yang kita cintai. Tapi kata kuncinya disini adalah “ketulusan” yang menjadikan “kesucian cinta”.

Dalam kasus hubungan antara manusia (laki-laki dan perempuan) kata cinta seringkali membius mereka untuk memaksakan diri menjadi tidak apa adanya. Seringkali manusia tampil sebagai sosok yang munafik dihadapan objek yang dicintainya, mereka gak mau jujur siapa jati dirinya. Contoh kecil saja, kadang kala manusia sering membohongi dirinya dan yang dicintainya, dengan alasan tak mau kehilangan cintanya. Atau seingkali manusia berusaha tampil sebaik mungkin dihapan objek yang dicintainya. Mereka selalu menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. Padahal dalam cinta ada nilai kejujuran yang menjadi pondasi awal akan tulusnya rasa cinta itu.

“cinta ditolak dukun bertindak” pepatah ini sebenarnya tak ada dalam kamus cinta. Karena pada hakekatnya cinta tak pernah tertolak. Dalam kasus hubungan antara laki-laki dan perempuan, sebenarnya jika cinta—katakanlah bertepuk sebelah tangan—tak disambut oleh objek yang kita cintai, seringkali mereka putus asa, sakit hati dan stress. Padahal mereka mengaku cinta, tapi kenapa mereka bersedih. Bagiku rasa yang demikian itu bukanlah cinta yang suci, bukan cinta yang tulus, karena cinta yang tulus dan suci adalah sebuah aktivitas pengorbanan diri untuk terus membiarkan dan memberikan yang terbaik dan apa adanya terhadap objek yang kita cintai. Jadi jika ada orang bilang cinta sama kita padahal kita tidak mencintai (menyambut cintanya), kemudian orang itu sakit hati, maka cintanya itu semu. Cintanya punya alasan dan memiliki tujuan. Padahal tak ada alasan ataupun tujuan dalam cinta kecuali cinta itu sendiri.

Dari itulah, cinta yang tulus pasti sarat dengan pengorbanan, akan tetapi pengorbanan tersebut melahirkan kebahagian dalam diri kita. Tapi ingat kebahagian bukanlah tujuan dari cinta melainkan bagian dari cinta, termasuk juga didalamnya kebaikan dan keindahan.

Ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu buta, bagiku itu ada benarnya, karena dalam cinta kita tidak akan pernah melihat dia itu cantik atau jelek, jahat atau baik, kaya atau miskin dan lain sebagainya. Dengan kebutaan cinta itulah kita nantinya akan menemukan kesucian cinta itu sendiri.

Cinta akan menerima apa adanya. Kita mencintai dia karena dia memang saya cinta. Tak ada alasan lain kecuali cinta itu sendri. Toh walaupun pada akhirnya kita tidak bisa hidup bersama (jodoh) terhadap orang yang kita cintai, bukan berarti cinta kita mati atau cinta kita ditolak, akan tetapi cinta kita memang belum tersambut.

Disamping itu cinta juga bisa berubah tapi tidak hilang, misalnya cinta kita bisa berubah dari pacar menjadi teman. Dari itulah untuk mengimbangi dan menjaga gejolak perubahan cinta itu, kita harus pintar-pintar memeliharanya. Adapun perangkat lunaknya untuk memelihara keutuhan cinta adalah kejujurang, kepercayaan, keterbukaann dan pengertian.

Perangkat tersebut, akan lebih terasa jika hubungan cinta sudah tersambut, artinya antara dia dengan dia sudah saling mencintai. Maka hubungan tersebut akan terhindar dari virus-virus yang meretakkan keutuhan jika perangkat lunak diatas telah tertanam dari individu masing-masing.

Jika hal itu terjadi maka bertemulah dua cinta suci diantara mereka dan akhirnya akan menjadi cinta yang sejati, yang tak akan terpisahkan sampai akhir nafas mereka.

Akan tetapi problem yang sering terjadi adalah, seringkali kita memaksakan kehendak kita terhadap objek yang kita cintai, untuk begini, untuk begitu dan lain sebagainya. Hal yang demikian juga akan menjadi embrio retaknya bangunan cinta tersebut. Maka peran pengertian disini harusnya menjadi scanner dari kepentingan-kepentingan ego kita terhadap objek yang kita cintai.

Bagiku dalam hubungan cinta, kita seharusnya menyatukan dua indvidu menjadi satu individu yang lain dalam dunia cinta itu, jadi dalam cinta kita harus mengubur ego aku, atau ego dia, yang ada adalah ego cinta itu sendiri. EGO CINTA disini adalah gabungan antara kehendak aku dan kehendak dia.

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...