Tuesday, October 13, 2015

MENGEJA KEBIJAKSANAAN SEORANG IBU

23 tahun yang silam, lahirlah seorang anak disebuah desa yang nun jauh dikepulauan sana, dari rahim seorang ibu yang mendamba sesuatu yang sederhana, hingga ia pun hidup sederhana, makan dan minum apa adanya, hartapun tak lagi ada di tumpukannya, dan seringkali menasehati anaknya dengan bijaksana.

Pada saat usia 13 tahun, anak itu mulai berpikir keras mengeja kebijaksanaan seorang ibu, sang ibu berkata “Nak….sesungguhnya hidup ini indah, tenang, dan damai. Tapi tak semua orang bias melihat dan merasakannya, karena keindahan hidup terletak pada ketulusan, kesabaran, kejujuran dan keadilan.”

Sang anakpun duduk terdiam menyimak kata-kata ibunya, yang jelas belum dia rasakan. Karena selama ini, ia tak pernah bermain tembak-tembakan, tak punya mobil-mobilan, tak punya kapal-kapalan. Diapun merasa kebingunan, rotipun tak pernah ia pegang, pesawatpun hanya bisa ia pandang, liat TV pun dia jarang-jarang. Sang ibu mengerti reaksi anaknya.


“Tapi nak….hidup itu bias jadi hantu yang menakutkan, jika kita selalu memakai kecamata KESEMPURNAAN, bukan KESEDERHANAAN. Kesempurnaan itu hanyalah impian yang tak akan bisa dicapai, tapi kita hanya bisa berproses menujunya. Kesempurnaan itu hanyalah sebagai tujuan buat hidup kita nanti di sana, di surga. Di dunia ini kita hidup apa adanya, jangan berharap yang lebih dari apa yang ada di sekeliling kita. Karena itu akan menyakitkan. Syukurilah semuanya, karena kaupun pasti mendapatkan hikmahnya” lanjut sang ibu.

Pesan ibu itu, terus tergiang ditelinga sang anak, bagai semilir angin yang terus berbisik di telinganya. Berusaha mencerna sedalam mungkin maksud dari semuanya. Tapi ia tak menemukan keindahan hidup seperti yang ditawarkan oleh ibunya, ia belum memahami kesederhaan yang dimaksudkan ibunya.

Karena yang tampak pada kehidupannya hanyalah sulaman kemunafikan yang dibungkus dengan kepura-puraan. Pura-pura agamis, pura-pura pengemis, pura-pura bijak, pura-pura pejabat, pura-pura miskin, pura-pura kaya. Itulah warna hidup yang dihadapannya. Munkinkah ketulusan tak lagi ada, kejujuran sudah jadi barang langka, kesabaran tak lagi jadi usaha, keadilan hanya sebatas aturan dan suara. Semua itu hanya ramai di panggung orasi, di meja diskusi, menggema sebatas janji. Tapi tanpa realisasi.

Akankah kehidupan ini hadir sebagai dusta, yang akan menggerogoti fitrah kita…!!!

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...