23
tahun yang silam, lahirlah seorang anak disebuah desa yang nun jauh
dikepulauan sana, dari rahim seorang ibu yang mendamba sesuatu yang
sederhana, hingga ia pun hidup sederhana, makan dan minum apa adanya,
hartapun tak lagi ada di tumpukannya, dan seringkali menasehati anaknya
dengan bijaksana.
Pada saat usia 13 tahun, anak itu mulai berpikir keras mengeja kebijaksanaan seorang ibu, sang ibu berkata “Nak….sesungguhnya
hidup ini indah, tenang, dan damai. Tapi tak semua orang bias melihat
dan merasakannya, karena keindahan hidup terletak pada ketulusan,
kesabaran, kejujuran dan keadilan.”
Sang
anakpun duduk terdiam menyimak kata-kata ibunya, yang jelas belum dia
rasakan. Karena selama ini, ia tak pernah bermain tembak-tembakan, tak
punya mobil-mobilan, tak punya kapal-kapalan. Diapun merasa kebingunan,
rotipun tak pernah ia pegang, pesawatpun hanya bisa ia pandang, liat TV
pun dia jarang-jarang. Sang ibu mengerti reaksi anaknya.
“Tapi
nak….hidup itu bias jadi hantu yang menakutkan, jika kita selalu
memakai kecamata KESEMPURNAAN, bukan KESEDERHANAAN. Kesempurnaan itu
hanyalah impian yang tak akan bisa dicapai, tapi kita hanya bisa
berproses menujunya. Kesempurnaan itu hanyalah sebagai tujuan buat hidup
kita nanti di sana, di surga. Di dunia ini kita hidup apa adanya,
jangan berharap yang lebih dari apa yang ada di sekeliling kita. Karena
itu akan menyakitkan. Syukurilah semuanya, karena kaupun pasti
mendapatkan hikmahnya” lanjut sang ibu.
Pesan ibu itu,
terus tergiang ditelinga sang anak, bagai semilir angin yang terus
berbisik di telinganya. Berusaha mencerna sedalam mungkin maksud dari
semuanya. Tapi ia tak menemukan keindahan hidup seperti yang ditawarkan
oleh ibunya, ia belum memahami kesederhaan yang dimaksudkan ibunya.
Karena
yang tampak pada kehidupannya hanyalah sulaman kemunafikan yang
dibungkus dengan kepura-puraan. Pura-pura agamis, pura-pura pengemis,
pura-pura bijak, pura-pura pejabat, pura-pura miskin, pura-pura kaya.
Itulah warna hidup yang dihadapannya. Munkinkah ketulusan tak lagi ada,
kejujuran sudah jadi barang langka, kesabaran tak lagi jadi usaha,
keadilan hanya sebatas aturan dan suara. Semua itu hanya ramai di
panggung orasi, di meja diskusi, menggema sebatas janji. Tapi tanpa
realisasi.
Akankah kehidupan ini hadir sebagai dusta, yang akan menggerogoti fitrah kita…!!!
No comments:
Post a Comment