Hari
itu, aku tak ingin bekerja, aku hanya ingin jalan-jalan menyusuri kota
Jakarta, selama hampir dua tahun aku belum menemukan keindahan Kota
Mitropolitan ini. Ibu Kota Jakarta, seharusnya sebijak ibuku, seindah
ibuku, dan selembut ibuku. Tapi Jakarta terlalu emosional, gelisah, riuh
dan penuh dengan ambisi-ambisi besar namun pertimbangan-pertimbangan
yang kecil. Akhirnya terciptalah kemudharatan-kemudaratan kecil yang
lama-lama bertumpuk menjadi besar dan terus membesar.
Di
taman Monas, aku menghentikan sepeda motorku, aku parkir di tempat yang
telah di sediakan dan mencari tempat terteduh dan tersepi di taman itu.
Namun aku tak kehilangan ujung dari tugu yang dibangun pemerintahan
Soekarno tersebut. Hem……..aku ingin merasakan Jakarta ini berbeda, hari
ini hari terakhirku di Jakarta, akan ku serap semua keindahan kota ini
dan kubawa untuk menjadi sejarah dalam hidupku.
Lama-lama
aku teringat gina, dimana gerangan perempuan itu berada hari ini.
Mungkinkah dia di taman tempat biasa kami bertemu, rasanya tidak
mungkin, hari masih belum sore. Akan aku coba untuk pergi ke taman itu
nanti sore, siapa tahu aku bisa berucap kata perpisahan dengannya.
Tapi
sore itu, Gina tidak ada, dia tampaknya tidak datang. Akhirnya aku
putuskan untuk pulang dan kutulis pesan singkat di sandaran kursi tempat
biasa kita bertemu “Aku pindah ke surabaya, gina”. Tulisku dengan
memakai pena yang akhirnya rusak, karena aku menulisnya terlalu kuat
hingga bukan tinta yang tertuang dalam tulisan itu, tapi berupa goresan
di sebuah kayu.
***
Surabaya,
“I coming”, ucapku, ketika pertama kali mendaratkan kakiku di stasiun
Gubeng. Kota ini sudah sekitar 3 tahun kutinggalkan, tak banyak
perkembangan yang bisa ku ketahui. Tapi tampaknya kota ini semakin bijak
saja, jalan raya masih punya waktu untuk istirahat walaupun beberapa
detik saja, sebelum akhirnya ia dilindas kembali oleh kendaraan bermesin
kota. Tapi Surabaya tetap kota yang lebih tenang dari pada Jakarta,
jarang terjadi kemacetan di kota ini. Karena semua gorong-gorong
tampaknya berfungsi dengan baik.
Aku
tiba di pagi hari, dan aku memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri kota
Surabaya, menyulam kembali kenangan-kenangan lama bersama
sahabat-sahabatku, kekasihku, dan beberapa teman sesaatku.
Hem……tampak
seperti dulu, tapi sudah cukup kembali terawat. Hari itu aku terus
berjalan menyusuri kota surabaya, mengunjungi taman-taman kota dan
pantai. Terakhir ke jembatan suramadu. Dan akhirnya aku putuskan kembali
ke kampusku di sekitar jalan A. yani. Namun aku tampak tertidur di bis
kota, sehingga aku melewati kampus itu, dan turun tepat di sebuah “taman
pelangi”.
Begitulah
mahasiswa menyebutkan taman yang baru di bangun tersebut. Namun yang
namanya pelangi biasaya kita lihat di siang hari, tapi taman ini hanya
menjadi pelangi ketika matahari udah tenggelam, dan di ganti lampu
berwarna-warni yang di sorot ke beberapa tugu yang dibangun di tengah
taman ini, pancaran sinar lampu ke tugu tersebut memang memancarkan
warna serupa pelangi. Tapi tak sama persis.
Di
hari libur, kota surabaya memang tak cukup ramai, jalanan agak lengang,
dan taman ini di sore ini juga tak terlalu ramai, karena barangkali
kampus sedang libur, jadi tak banyak mahasiswa yang kencan dan cangkruk
di taman ini.
Tapi
tiba-tiba, kulihat sesosok perempuan berkerudung hijau muda
tampak sibuk memotret beberapa objek. Perempuan itu seperti ku kenal,
namun aku belum bisa memastikannya, karena wajahnya masih terhalang
kamera. Beberapa saat kemudian aku semakin mendekati perempuan itu dari
arah depan, tepat ketika ia memfokuskan kameranya.
Namun
tiba-tiba secara perlahan-lahan kameranya di turunkan dan kembali
memandangku, ia tampak kaget dan heran barangkali. “Gina….!!!” Sapaku
yang juga heran, kenapa ia sudah ada di sini. Namun ia hanya tersenyum
dan sesaat kemudian ia kembali memotret objek-objek lain, sementara aku
di cuekin begitu saja. Aku tetap berdiri di sampingnya, dan menunggunya
menyelesaikan aktivitasnya.
“Gimana ceritanya kamu bisa sampai ke sini?” tanya gina sembari melihat-lihat hasil jepretannya.
“Itu pertanyaanku kepadamu, kenapa kau ambil?” aku balik bertanya sembari mencari tempat duduk di yang tak jauh darinya.
“Waktu kita tak panjang untuk saling bercerita, sebaiknya kamu yang cerita duluan”, ucapnya
“Waktuku cukup panjang di sini, jadi ku persilahkan kamu cerita duluan” balasku
“Kamu memang tipologi laki-laki yang tak mau mengalah, tapi kamu mudah menyerah”
“Dan
kamu tipe perempuan yang terlalu mudah untuk mengambil kesimpulan
walaupun itu salah” balasku lagi, aku tak tahu kemana obrolan kali ini
akan menuju. Aku hanya melayani obrolannya tanpa berpikir panjang.
Gina
kemudian juga duduk mengambil tempat tepat di depanku, ini sangat
jarang ia lakukan. Beberapa saat ia mengarahkan kemeranya ke wajahku,
tampaknya ia ingin memotret wajahku. Tapi aku tutup wajahku dengan
tanganku, karena aku tak suka di photo tanpa alasan apalagi oleh
perempuan yang selalu membuatku penasaran.
“Kau
tak perlu tutup wajahmu, aku hanya memotret tulisan di kaos mu”
ucapnya, lalu kulihat kaosku yang bertuliskan “Good kampung and good
city”. Dan tentunya dia membuatku malu karena merasa GR menjadi pusat
perhatiannya. “Dasar…!!” ucapku singkat.
“Hahahahahaha…..”
dia tertawa, dia tertawa, aku hanya menganga, tawanya ternyata luar
biasa. Dia baru pertama kali tertawa, dan aku baru mendengar tawanya
ini. Pikirku dia perempuan pemalu, namun tidak dia tertawa begitu lepas.
“Kamu itu selalu menarik kalau salah tingkah, dan wajahmu penuh kejujuran, itu artinya kau tak cocok jadi koruptor”, ujarnya.
“Hem…syukurlah.
Itu artinya aku tak disediakan potensi untuk menjadi koruptor, jadi itu
mengurangi target KPK untuk di selidiki” ucapku. “Oh iya kamu gimana
ceritanya bisa sampai ke surabaya?” sambungku lagi. Karena dia sudah
tampak memasukkan kameranya ke dalam tasnya.
“Aku
ikut ayah yang sedang bertugas di surabaya, dan kebetulan aku menyukai
taman-taman yang ada di kota, karena hanya taman itu yang menyediakan
kesejukan bagi para penghuni kota tersebut, ketika rumahnya sudah
seperti neraka, dan taman selalu menjadi sebuah keagungan sendiri yang
pantas untuk kita kagumi, di taman ini ada semesta kecil” jelasnya.
“lalu kamu ke sini?”
“Aku
asli madura, dan lama tinggal di surabaya, dulu ke jakarta aku di
pindah tugas ke sana, tapi sekarang aku kembali bekerja di sini”.
Jawabku. “tapi apa keluargamu broken home’s?” tanyaku lagi.
Wajahnya Gina tiba-tiba berubah, “ternyata kau sama dengan diriku, sama-sama
mudah mengambil kesimpulan walaupun akhirnya salah”, ucapnya kemudian.
“Tapi
kesimpulan itu penting, setiap saat tuhan ingin tahu apa kesimpulan
kita dalam setiap kenyataan yang kita hadapi, dan dari kesimpulan itulah
kualitas kita bisa di ketahui, urusan salah dan benar itu urusan yang
lain”. Jelasku.
“Itu artinya aku perempuan yang……………?” tanyanya sembari menunggu aku melanjutkan kata-katanya.
“Mengagumkan”, ucapku singkat. “dan itu juga berarti aku adalah laki-laki yang …………..?” sambungku sembari menunggu jawabannya.
“GOMBAL”.
Jawabnya singkat. Sembari tersenyum dan berlalu. “Sampai ketemu besok
di sini, awas kalau gak datang”. Ucapnya. Kemudian dia berjalan menuju
parkiran dan menaiki sebuah mobil pajero yang di dalamnya ada laki-laki
tampak berpakaian seperti seorang sopir pribadi. “Gina…. Siapa dirimu?”
tanyaku.
No comments:
Post a Comment