Wednesday, October 14, 2015

GINA (3) SIAPA DIRIMU?

Hari itu, aku tak ingin bekerja, aku hanya ingin jalan-jalan menyusuri kota Jakarta, selama hampir dua tahun aku belum menemukan keindahan Kota Mitropolitan ini. Ibu Kota Jakarta, seharusnya sebijak ibuku, seindah ibuku, dan selembut ibuku. Tapi Jakarta terlalu emosional, gelisah, riuh dan penuh dengan ambisi-ambisi besar namun pertimbangan-pertimbangan yang kecil. Akhirnya terciptalah kemudharatan-kemudaratan kecil yang lama-lama bertumpuk menjadi besar dan terus membesar.

Di taman Monas, aku menghentikan sepeda motorku, aku parkir di tempat yang telah di sediakan dan mencari tempat terteduh dan tersepi di taman itu. Namun aku tak kehilangan ujung dari tugu yang dibangun pemerintahan Soekarno tersebut. Hem……..aku ingin merasakan Jakarta ini berbeda, hari ini hari terakhirku di Jakarta, akan ku serap semua keindahan kota ini dan kubawa untuk menjadi sejarah dalam hidupku.


Lama-lama aku teringat gina, dimana gerangan perempuan itu berada hari ini. Mungkinkah dia di taman tempat biasa kami bertemu, rasanya tidak mungkin, hari masih belum sore. Akan aku coba untuk pergi ke taman itu nanti sore, siapa tahu aku bisa berucap kata perpisahan dengannya.

Tapi sore itu, Gina tidak ada, dia tampaknya tidak datang. Akhirnya aku putuskan untuk pulang dan kutulis pesan singkat di sandaran kursi tempat biasa kita bertemu “Aku pindah ke surabaya, gina”. Tulisku dengan memakai pena yang akhirnya rusak, karena aku menulisnya terlalu kuat hingga bukan tinta yang tertuang dalam tulisan itu, tapi berupa goresan di sebuah kayu.  

***

Surabaya, “I coming”, ucapku, ketika pertama kali mendaratkan kakiku di stasiun Gubeng. Kota ini sudah sekitar 3 tahun kutinggalkan, tak banyak perkembangan yang bisa ku ketahui. Tapi tampaknya kota ini semakin bijak saja, jalan raya masih punya waktu untuk istirahat walaupun beberapa detik saja, sebelum akhirnya ia dilindas kembali oleh kendaraan bermesin kota. Tapi Surabaya tetap kota yang lebih tenang dari pada Jakarta, jarang terjadi kemacetan di kota ini. Karena semua gorong-gorong tampaknya berfungsi dengan baik.

Aku tiba di pagi hari, dan aku memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri kota Surabaya, menyulam kembali kenangan-kenangan lama bersama sahabat-sahabatku, kekasihku, dan beberapa teman sesaatku.

Hem……tampak seperti dulu, tapi sudah cukup kembali terawat. Hari itu aku terus berjalan menyusuri kota surabaya, mengunjungi taman-taman kota dan pantai. Terakhir ke jembatan suramadu. Dan akhirnya aku putuskan kembali ke kampusku di sekitar jalan A. yani. Namun aku tampak tertidur di bis kota, sehingga aku melewati kampus itu, dan turun tepat di sebuah “taman pelangi”.

Begitulah mahasiswa menyebutkan taman yang baru di bangun tersebut. Namun yang namanya pelangi biasaya kita lihat di siang hari, tapi taman ini hanya menjadi pelangi ketika matahari udah tenggelam, dan di ganti lampu berwarna-warni yang di sorot ke beberapa tugu yang dibangun di tengah taman ini, pancaran sinar lampu ke tugu tersebut memang memancarkan warna serupa pelangi. Tapi tak sama persis.

Di hari libur, kota surabaya memang tak cukup ramai, jalanan agak lengang, dan taman ini di sore ini juga tak terlalu ramai, karena barangkali kampus sedang libur, jadi tak banyak mahasiswa yang kencan dan cangkruk di taman ini.

Tapi tiba-tiba, kulihat sesosok perempuan berkerudung  hijau muda tampak sibuk memotret beberapa objek. Perempuan itu seperti ku kenal, namun aku belum bisa memastikannya, karena wajahnya masih terhalang kamera. Beberapa saat kemudian aku semakin mendekati perempuan itu dari arah depan, tepat ketika ia memfokuskan kameranya.

Namun tiba-tiba secara perlahan-lahan kameranya di turunkan dan kembali memandangku, ia tampak kaget dan heran barangkali. “Gina….!!!” Sapaku yang juga heran, kenapa ia sudah ada di sini. Namun ia hanya tersenyum dan sesaat kemudian ia kembali memotret objek-objek lain, sementara aku di cuekin begitu saja. Aku tetap berdiri di sampingnya, dan menunggunya menyelesaikan aktivitasnya.

“Gimana ceritanya kamu bisa sampai ke sini?” tanya gina sembari melihat-lihat hasil jepretannya.

“Itu pertanyaanku kepadamu, kenapa kau ambil?” aku balik bertanya sembari mencari tempat duduk di yang tak jauh darinya.
“Waktu kita tak panjang untuk saling bercerita, sebaiknya kamu yang cerita duluan”, ucapnya
“Waktuku cukup panjang di sini, jadi ku persilahkan kamu cerita duluan” balasku
“Kamu memang tipologi laki-laki yang tak mau mengalah, tapi kamu mudah menyerah”
“Dan kamu tipe perempuan yang terlalu mudah untuk mengambil kesimpulan walaupun itu salah” balasku lagi, aku tak tahu kemana obrolan kali ini akan menuju. Aku hanya melayani obrolannya tanpa berpikir panjang.

Gina kemudian juga duduk mengambil tempat tepat di depanku, ini sangat jarang ia lakukan. Beberapa saat ia mengarahkan kemeranya ke wajahku, tampaknya ia ingin memotret wajahku. Tapi aku tutup wajahku dengan tanganku, karena aku tak suka di photo tanpa alasan apalagi oleh perempuan yang selalu membuatku penasaran.

“Kau tak perlu tutup wajahmu, aku hanya memotret tulisan di kaos mu” ucapnya, lalu kulihat kaosku yang bertuliskan “Good kampung and good city”. Dan tentunya dia membuatku malu karena merasa GR menjadi pusat perhatiannya. “Dasar…!!” ucapku singkat.

“Hahahahahaha…..” dia tertawa, dia tertawa, aku hanya menganga, tawanya ternyata luar biasa. Dia baru pertama kali tertawa, dan aku baru mendengar tawanya ini. Pikirku dia perempuan pemalu, namun tidak dia tertawa begitu lepas.

“Kamu itu selalu menarik kalau salah tingkah, dan wajahmu penuh kejujuran, itu artinya kau tak cocok jadi koruptor”, ujarnya.

“Hem…syukurlah. Itu artinya aku tak disediakan potensi untuk menjadi koruptor, jadi itu mengurangi target KPK untuk di selidiki” ucapku. “Oh iya kamu gimana ceritanya bisa sampai ke surabaya?” sambungku lagi. Karena dia sudah tampak memasukkan kameranya ke dalam tasnya.

“Aku ikut ayah yang sedang bertugas di surabaya, dan kebetulan aku menyukai taman-taman yang ada di kota, karena hanya taman itu yang menyediakan kesejukan bagi para penghuni kota tersebut, ketika rumahnya sudah seperti neraka, dan taman selalu menjadi sebuah keagungan sendiri yang pantas untuk kita kagumi, di taman ini ada semesta kecil” jelasnya. “lalu kamu ke sini?”

“Aku asli madura, dan lama tinggal di surabaya, dulu ke jakarta aku di pindah tugas ke sana, tapi sekarang aku kembali bekerja di sini”. Jawabku. “tapi apa keluargamu broken home’s?” tanyaku lagi.

Wajahnya Gina tiba-tiba berubah, “ternyata kau sama dengan diriku, sama-sama mudah mengambil kesimpulan walaupun akhirnya salah”, ucapnya kemudian.

“Tapi kesimpulan itu penting, setiap saat tuhan ingin tahu apa kesimpulan kita dalam setiap kenyataan yang kita hadapi, dan dari kesimpulan itulah kualitas kita bisa di ketahui, urusan salah dan benar itu urusan yang lain”. Jelasku.

“Itu artinya aku perempuan yang……………?” tanyanya sembari menunggu aku melanjutkan kata-katanya.
“Mengagumkan”, ucapku singkat. “dan itu juga berarti aku adalah laki-laki yang …………..?” sambungku sembari menunggu jawabannya.

“GOMBAL”. Jawabnya singkat. Sembari tersenyum dan berlalu. “Sampai ketemu besok di sini, awas kalau gak datang”. Ucapnya. Kemudian dia berjalan menuju parkiran dan menaiki sebuah mobil pajero yang di dalamnya ada laki-laki tampak berpakaian seperti seorang sopir pribadi. “Gina…. Siapa dirimu?” tanyaku.

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...