Sudah tiga purnama, aku tak lagi melihat
wajah Gina, setelah pertemuan terakhir di taman pelangi Surabaya, Gina
menghilang begitu saja, padahal ia berjanji untuk menemuiku lagi, tapi
lagi-lagi janji memang selalu dengan keingkaran, yang kadang-kadang
waktu pun tak memberikan kesempatan untuk menjelaskan alasan. Tapi
apapun itu, tetaplah sebuah janji.
Sore itu, senja baru saja pergi,dan bumi ini menyambut datangnya purnama ke empat di bulan Januari. Bulan seakan terlambat datang, namun kombinasi sinar putih dan kuning emasnya telah mengangkasa membentuk sebuah siluet indah di belahan timur semesta. Tapi bulan itu tetap menyembunyikan jasadnya dari pandangan mataku, walaupun dia tak kehilangan hakekatnya di hatiku. Ya purnama dan keindahannya selalu menyatu, dan senantiasa menyapa manusia dengan tatapan pandangan yang sayu.
Sore itu, senja baru saja pergi,dan bumi ini menyambut datangnya purnama ke empat di bulan Januari. Bulan seakan terlambat datang, namun kombinasi sinar putih dan kuning emasnya telah mengangkasa membentuk sebuah siluet indah di belahan timur semesta. Tapi bulan itu tetap menyembunyikan jasadnya dari pandangan mataku, walaupun dia tak kehilangan hakekatnya di hatiku. Ya purnama dan keindahannya selalu menyatu, dan senantiasa menyapa manusia dengan tatapan pandangan yang sayu.
Aku
telentangkan tubuhku di atas hamparan rumput hijau taman kota yang
sempit itu, namun walaupun sempit, ia memberikan kesejukan dan
ketenangan yang luar biasa ditengah-tengah hiruk pikuknya kendaraan
bermesin, ambisi yang tiada habisnya, dan kesibukan warganya yang tak
ada batasnya. Entahlah…!! Sejak kapan kesibukan itu seakan menjadi
indentias baru dari ke-aku-an manusia. Sehingga kesuksesan pun kadang
kala diukur dari sejauh mana kesibukan yang mereka miliki.
Pada titik
inilah aku merasa, dunia ini sudah mulai mengalami masa-masa yang nyaris
gila, atau barangkali sudah melampaui kegilaan itu sendiri. Hingga para
filosof, pakar, pemikir,cendikia, dan ilmuan tak mampu lagi membendung
derasnya arus kriminalitas yang tak rasional, korupsi yang tak
professional, dan kemiskinan yang tak proporsional. Dunia selalu
menciptakan batas dan manusia memiliki batasnya sendiri.
***
“Hai…….!!!”
Tiba-tiba suara itu mengagetkanku, bukan karena lembut nadanya, namun
suara itu seperti aku dengar,dan aku nyaris saja lupa. “Ini minum dulu
biar gak stress,” sambung suara gadis berkerudung putih itu.
“Gina…..!!!”
ucapku sembari taktahan meluapkan rasa kekagetanku, nyaris saja
perempuan itu aku peluk, sebelum akhirnya aku sadar aku sudah punya
Istri. Hah….. istri, kata ini memang lagi-lagi memberikan batas pada
kehidupan seseorang, walaupun orang lain mengatakannya sebuah
keteraturan. Tapi aku suka batas itu.
“Maaf, tiga bulan lalu, aku taksempat datang ke taman ini, karena ayahku buru-buru balik ke Jakarta,” ucap Gina singkat.
“Hahahahahahaha…. Bagiku maaf itu bukanlah sesuatu yang penting untuk seorang sahabat,”jawabku.
“Kenapa demikian…?” Tanya Gina singkatsembari menatapku tajam.
“Ya karena
dalam persahabatan kesalahan dan memaafkan itu adalah keniscayaan, jika
kau sahabat yang baik,maka kamu secara otomatis memaafkan kesalahan
sahabatmu, tanpa diminta oleh mereka, atau lebih mulia lagi, jika kau
sudah memaafkan dia jauh sebelum dia berbuat kesalahan,” jelasku.
“Hem…jawabanmu boleh juga, dapat dari mana…?” Tanya gina.
“Dari setiap kesalahan yang aku lakukan pada sahabatku, dan aku tak sempat meminta maaf pada mereka,” terangku.
“Baiklah aku
tak jadi minta maaf, karena menurutku, setelah kupikir-pikir jawabanmu
ada benarnya juga, kesalahan diri dan orang lain sebenarnya merupakan
bagian dari pelajaran untuk kita, hem…baiklah kalau begitu, aku akan
menyakitimu terus menerus,” ucapnya.
“Tak ada orang lain yang bisa menyakiti kita, kecuali kita memang mau disakiti oleh orang lain,” jawabku.
“Kok bisa begitu?” Tanya gina.
“Ya bisa, asal kuncinya kamu pegang,” jawabku singkat pula.
“Memang
kuncinya apa…??” tanyanya lagi, hari ini Gina memang lebih banyak
bertanya, tapi aku suka pertanyaan kecil semacam itu, karena setiap
pertanyaan selalu membuka jalan bagi kita untuk membuka ruang berpikir
kita yang baru.
“IKHLAS,” jawabku singkat. Lalu kami sama-sama terdiam dan berdialog dalam lamunannya masing-masing.
“Dunia ini
sungguh kecil, tapi Ikhlas kadang-kadang membuat dunia ini begitu luas
tanpa batas, kata ikhlas itu memang kata yang canggih, tuhan menciptakan
kata itu benar-benar penuh makna,mudah dikatakan tapi susah di
jelaskan. Itu artinya betapa mahalnya Ikhlas itu sendiri, tak bisa di
jual dan tak bisa di beli, tak bisa memaksakan dan tak bisa dipaksakan,”
kata Gina.
“Karena
Ikhlas itu adalah Hadiah,dari usaha kita untuk senantiasa bersabar
menghadapi dunia yang kecil ini, dan Kesabaran itulah yang menjadi jalan
setapak menuju pintu gerbang IKLAS untukmemasuki dunia yang lebih luar
biasa,” terangku.
“AKHIRAT,
Negeri tanpa batas,yang indah walaupun tanpa Purnama, yang Mesra
walaupun tanpa Wanita, Romantis walaupun tanpa Kekasih,” timbal Gina.
“Hehehehehehehehe bahasamu bolehjuga, walaupun maknanya masih multi interpretative,” jawabku.
Lalu mata
kami sama-sama menatap satu titik yang indah, Bulan Purnama, di sanalah
pandangan kami bertemu, seakan bulan itu adalah bumi dimana aku dan Gina
tinggal di dalamnya, semantara aku yang melihat adalah aku sendiri yang
mentertawakan kelucuan hidup ini. Aku banyak menghabiskan waktu tanpa
arti, sementara orang lain berani membeli dengan harga mahal agar waktu
mereka tak terbuang sia-sia. Ya itulah waktu yang tak pernah bergerak
mundur ke belakang, dan terus maju tanpa memberikan kita kesempatan
untuk menahannya sejenak. Kitalah yang dikejar waktu, atau waktu yang
mengejar kita.

No comments:
Post a Comment