Thursday, October 15, 2015

Gina (4) : AKU dan SEMESTA KECILNYA.

Sudah tiga purnama, aku tak lagi melihat wajah Gina, setelah pertemuan terakhir di taman pelangi Surabaya, Gina menghilang begitu saja, padahal ia berjanji untuk menemuiku lagi, tapi lagi-lagi janji memang selalu dengan keingkaran, yang kadang-kadang waktu pun tak memberikan kesempatan untuk menjelaskan alasan. Tapi apapun itu, tetaplah sebuah janji.

Sore itu, senja baru saja pergi,dan bumi ini menyambut datangnya purnama ke empat di bulan Januari. Bulan seakan terlambat datang, namun kombinasi sinar putih dan kuning emasnya telah mengangkasa membentuk sebuah siluet indah di belahan timur semesta. Tapi bulan itu tetap menyembunyikan jasadnya dari pandangan mataku, walaupun dia tak kehilangan hakekatnya di hatiku. Ya purnama dan keindahannya selalu menyatu, dan senantiasa menyapa manusia dengan tatapan pandangan yang sayu.

Aku telentangkan tubuhku di atas hamparan rumput hijau taman kota yang sempit itu, namun walaupun sempit, ia memberikan kesejukan dan ketenangan yang luar biasa ditengah-tengah hiruk pikuknya kendaraan bermesin, ambisi yang tiada habisnya, dan kesibukan warganya yang tak ada batasnya. Entahlah…!! Sejak kapan kesibukan itu seakan menjadi indentias baru dari ke-aku-an manusia. Sehingga kesuksesan pun kadang kala diukur dari sejauh mana kesibukan yang mereka miliki.


Pada titik inilah aku merasa, dunia ini sudah mulai mengalami masa-masa yang nyaris gila, atau barangkali sudah melampaui kegilaan itu sendiri. Hingga para filosof, pakar, pemikir,cendikia, dan ilmuan tak mampu lagi membendung derasnya arus kriminalitas yang tak rasional, korupsi yang tak professional, dan kemiskinan yang tak proporsional. Dunia selalu menciptakan batas dan manusia memiliki batasnya sendiri.

***

“Hai…….!!!” Tiba-tiba suara itu mengagetkanku, bukan karena lembut nadanya, namun suara itu seperti aku dengar,dan aku nyaris saja lupa. “Ini minum dulu biar gak stress,” sambung suara gadis berkerudung putih itu.

“Gina…..!!!” ucapku sembari taktahan meluapkan rasa kekagetanku, nyaris saja perempuan itu aku peluk, sebelum akhirnya aku sadar aku sudah punya Istri. Hah….. istri, kata ini memang lagi-lagi memberikan batas pada kehidupan seseorang, walaupun orang lain mengatakannya sebuah keteraturan. Tapi aku suka batas itu.

“Maaf, tiga bulan lalu, aku taksempat datang ke taman ini, karena ayahku buru-buru balik ke Jakarta,” ucap Gina singkat.

“Hahahahahahaha…. Bagiku maaf itu bukanlah sesuatu yang penting untuk seorang sahabat,”jawabku.
“Kenapa demikian…?” Tanya Gina singkatsembari menatapku tajam.
“Ya karena dalam persahabatan kesalahan dan memaafkan itu adalah keniscayaan, jika kau sahabat yang baik,maka kamu secara otomatis memaafkan kesalahan sahabatmu, tanpa diminta oleh mereka, atau lebih mulia lagi, jika kau sudah memaafkan dia jauh sebelum dia berbuat kesalahan,” jelasku.

“Hem…jawabanmu boleh juga, dapat dari mana…?” Tanya gina.
“Dari setiap kesalahan yang aku lakukan pada sahabatku, dan aku tak sempat meminta maaf pada mereka,” terangku.
“Baiklah aku tak jadi minta maaf, karena menurutku, setelah kupikir-pikir jawabanmu ada  benarnya juga, kesalahan diri dan orang lain sebenarnya merupakan bagian dari pelajaran untuk kita, hem…baiklah kalau begitu, aku akan menyakitimu terus menerus,” ucapnya.

“Tak ada orang lain yang bisa menyakiti kita, kecuali kita memang mau disakiti oleh orang lain,” jawabku.
“Kok bisa begitu?” Tanya gina.
“Ya bisa, asal kuncinya kamu pegang,” jawabku singkat pula.
“Memang kuncinya apa…??” tanyanya lagi, hari ini Gina memang lebih banyak bertanya, tapi aku suka pertanyaan kecil semacam itu, karena setiap pertanyaan selalu membuka jalan bagi kita untuk membuka ruang berpikir kita yang baru.

“IKHLAS,” jawabku singkat. Lalu kami sama-sama terdiam dan berdialog dalam lamunannya masing-masing.

“Dunia ini sungguh kecil, tapi Ikhlas kadang-kadang membuat dunia ini begitu luas tanpa batas, kata ikhlas itu memang kata yang canggih, tuhan menciptakan kata itu benar-benar penuh makna,mudah dikatakan tapi susah di jelaskan. Itu artinya betapa mahalnya Ikhlas itu sendiri, tak bisa di jual dan tak bisa di beli, tak bisa memaksakan dan tak bisa dipaksakan,” kata Gina.

“Karena Ikhlas itu adalah Hadiah,dari usaha kita untuk senantiasa bersabar menghadapi dunia yang kecil ini, dan Kesabaran itulah yang menjadi jalan setapak menuju pintu gerbang IKLAS untukmemasuki dunia yang lebih luar biasa,” terangku.

“AKHIRAT, Negeri tanpa batas,yang indah walaupun tanpa Purnama, yang Mesra walaupun tanpa Wanita, Romantis walaupun tanpa Kekasih,” timbal Gina.

“Hehehehehehehehe bahasamu bolehjuga, walaupun maknanya masih multi interpretative,” jawabku.

Lalu mata kami sama-sama menatap satu titik yang indah, Bulan Purnama, di sanalah pandangan kami bertemu, seakan bulan itu adalah bumi dimana aku dan Gina tinggal di dalamnya, semantara aku yang melihat adalah aku sendiri yang mentertawakan kelucuan hidup ini. Aku banyak menghabiskan waktu tanpa arti, sementara orang lain berani membeli dengan harga mahal agar waktu mereka tak terbuang sia-sia. Ya itulah waktu yang tak pernah bergerak mundur ke belakang, dan terus maju tanpa memberikan kita kesempatan untuk menahannya sejenak. Kitalah yang dikejar waktu, atau waktu yang mengejar kita. 

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...