“Assalamualaikum, Sahabatku….!!!! Bolehkan aku mencurimu
dari istrimu untuk sebentar saja, mungkin hanya 30 menit atau satu jam,
aku hanya ingin bertutur cerita dan bertanya kabar tentang kelurga
mungilmu, ya sekalian ingin memberikan kado pernikahan yang tertunda, Kutunggu kamu dimana kamu bersedia menemui diriku,”
Fajar
tampaknya baru saja mau menyingsing ketika kubaca sms itu dari Gina,
hem….nama ini memang sempat hilang dalam hidupku walaupun tak sepenuhnya
pergi. “Gina….Gina….!!!” keluhku dalam hati, “Ok…!!! Kita ketemu
ditempat terdekat dengan dirimu ataupun dengan diriku, atau kita bisa
ketemu di tengah-tengah, agar jarak perjalan kita jadi adil,” jawabku
ketika itu.
“Hei…..!!! Kamu baru bangun…!!! Itu
sms dua jam yang lalu, kemanakah dirimu ketika semua mata terpejam dan
para malaikat menaruh perhatian lebih pada mereka yang terbangun dan
berdoa di malam hari..!!! apakah Istrimu sudah merampas hak mu untuk
begadang dengan kegelapan…., hehehehehe Pis” jawabmu. Dan aku hanya
tersenyum.
“Jawabannya akan aku jelaskan nanti ketika kita ketemu, OK..!! Aku Shalat dulu,” jawabku singkat.
****
Sehabis
shalat subuh, aku langsung bergerak menuju tempat yang telah kita
sepakati, tempat itu tak jauh dari tempat tinggalku di kota pahlawan
ini. Jalanan Kota Surabaya masih tampak sepi, walaupun tak benar-benar
begitu sepi, sepinya kota sangat berbeda jauh dengan sepi nya desa ku,
sepinya desaku adalah kesenyapan dan kesunyian, tapi sepinya kota
seperti sebuah ilusi, hanya ada sedikit jeda di telinga kita dari suara
kendaraan yang terus terdengar tanpa henti. Atau mungkin saja kota itu
tak pernah benar-benar sepi.
Tak berapa lama
kemudian aku pun tiba disebuah jalan yang kita sepakati sebagai sebuah
pertemuan, aku tak melihat Gina di sana kecuali hanya beberapa orang
yang tampak sedang olah raga bersama keluarga mereka, tapi ternyata tak
semuanya begitu, ada beberapa pasangan yang masih cukup muda, tapi
mereka tak seperti olahraga, walaupun pakaiannya pakaian olah raga,
mereka seperti orang sedang berkencan duduk bermesraan di balik
bunga-bunga dipinggir jalan yang tak terlalu rama. “Mungkin ini yang
namanya kencan di pagi buta,” gumamku.
“Aku di
sebuah café, diseberang jalan, kamu masuk saja, aku melihatmu dari
sini,” sms Gina tak lama kemudian. Aku pun langsung memutar Arah menuju
café yang gina maksud. Tak lama kemudian aku pun langsung masuk café
tersebut dan kulihat Gina tampak duduk dengan seorang laki-laki setengah
baya, ia pun langsung bangun dan tersenyum menyambutku. Namun aku masih
ragu untuk mendekatinya, sebelum akhirnya Gina pun melambaikan
tangannya memanggilku.
***
“Ini
Ayah aku…!!! Dan ini sahabat yang aku ceritakan sama ayah,” ucap Gina
memperkenalkan aku dengan ayahnya. Aku pun tampak gugup dan berusaha
tersenyum seringan mungkin, tapi aku tak bisa. “Bantulah aku ya nak
mas….!!!” Ucap ayahnya kepadaku sembari ia langsung pindah meja dan
membiarkan aku dengan Gina berdua sebelum aku sempat berucap apa-apa.
Ayah Gina berlalu dengan cepat sebelum aku mengerti sepenuhnya maksud
dari kata-katanya.
“Gimana kabar Istimu Yan…!!” Tanya Gina membuka obrolan kita berdua.
“Kalau
istriku tidak baik-baik saja, aku tidak ke sini menemui dirimu. Tapi
kira-kira apa maksud ayah kamu minta bantuan ke aku..?” tanyaku
penasaran.
“Hehehehehehe…!!! Udah abaikan saja,”
ucap Gina singkat, namun aku menangkap ekspresi dari wajahnya bahwa ia
tak menginginkan aku untuk benar-benar mengabaikannya. “Ceritakan dulu
gimana rasanya berkeluarga, menikah atau pun punya anak,?” tanyanya
singkat.
“jawab dulu pertanyaanku tadi,” aku pun balas bertanya.
“Jawabanmu
ada hubungannya dengan jawabanku tadi,” jawab Gina. Dan aku sangat
benci hal itu, tapi aku tak ingin memperpanjang waktu pertemuan itu,
karena sebentar lagi kita akan sama-sama sibuk dengan aktivitas harian
masing-masing.
“Berkeluarga itu Indah, Menikah
itu seru dan menarik, Punya anak masih dalam tahap proses jadi rasanya
saya masih belum tahu,” jawabku singkat. “Terus kenapa Ayahmu minta
bantuan ke aku ?” aku kembali melempar pertanyaan yang sama.
“Ayah
ingin menikahkan aku dengan laki-laki yang menurutnya baik,” ucapnya,
tapi tampak tak begitu bersemangat. Aku hanya terdiam dan menunggu
kata-kata selanjutnya, pikiranku juga mulai berusaha menebak-nebak arah
pikirannya, tapi yang ada dalam benakku adalah pikiran nakalku. “mungkin
Gina gak mau di jodohkan karena dia jatuh cinta padaku,” kataku dalam
benakku. Aku benci kata-kata itu tapi ia muncul begitu saja dalam
pikiranku. “Ya Allah penyakit lamaku kok kumat gini ya,” lanjutku dalam
hati.
“Dulu aku berharap punya ayah begitu,
sehingga tak memberikan beban terlalu besar dalam hidupku, yaitu memilih
jodohku sendiri,” ucapku sambil mengambil gorengan kentang dan
memasukkannya dalam mulutku tanpa beban.
“Masalahnya aku memiliki penilai berbeda dengan ayahku tentang laki-laki itu,” ucap gina kemudian.
“Hem….ini masalah paradigma dan pengalaman, perbedaan semacam itu biasa terjadi,” cetusku.
“Maksudmu terlalu susah ku cerna,” ucap Gina. “Coba Jelaskan,” pintanya
“Kamu
dan Ayahmu mungkin ada perbedaan paradigma dalam hal ini, dan perbedaan
itu yang menyebabkan perbedaan penilain dan sikap kalian berdua. Yang
pertama perbedaan paradigma tentang menikah, perbedaan paradigma tentang
hidup, tentang hidupmu, tentang kebahagiaanmu, dan yang paling penting
tentang laki-laki itu,” jelasku.
“Yah hal itu
harus ku akui, mungkin darahku sama dengan dia, tapi kita seperti berada
di sudut yang berbeda, menatap dan menapaki dunia yang berbeda pula,
tapi aku tak ingin mengecewakannya, tak ingin membantahnya,” ucap gina.
“Kalau
kamu berpegang pada hal yang terakhir itu, hilangkan pikiranmu,
pertimbanganmu, cita-citamu, dan keinginanmu, Lalu kau ikuti apa yang
disarankan oleh ayahmu,” jawabku.
“Ayahku tidak
seotoriter begitu, dia masih meminta pendapatku dan membuka ruang untuk
bermusyarah, tapi aku tak mau memberikan argument hanya dengan bukti
perasaan dan anggapan semata, tapi butuh penjelasan yang lebih
dimengerti oleh ayah,” paparnya.
“Itulah
masalahnya, perbedaan pengalaman, ayahmu punya pengalaman tentang
pernikahan sementara kamu tidak, jadi mungkin banyak argumenmu yang akan
mentah jika hanya berapologi menggunakan rasa dan cinta,” kataku.
“Karena itulah aku minta pendapatmu yang sudah punya pengalaman menikah,” ujar Gina tampak sewot.
“Hehehehehehe….!!!
Aku juga kalah pengalaman dari ayahmu, aku masih baru, masih mencipi
rasanya, belum mengerti sepenuhnya, belum memahami seluruh isinya, dan
masih belum mendefinisikan sikap bahwa bertemu dengan hari ini adalah
sebuah kesalahan atau kebenaran,” jelasku.
“Hahahahahahahahaha, maksudmu kamu takut di tuduh selingkuh dengan diriku,?” Tanya Gina sambil tertawa.
“Tidak
sejauh itu, tapi nyaris begitu, hehehehe karena perempuan itu lebih
suka bermain-main dengan anggapan yang dia sendiri tak terlalu yakin
kebenarannya, apalagi membuktikannya, tapi perempuan kebanyakan
menjadikan asumsi pribadinya sebagai sebuah postulat yang tak
terbantahkan oleh laki-laki, dan disitulah laki-laki kehilangan
pembelaannya,” ucapku.
“Hem…… apa hal itu juga berlaku dalam kasusku ini?” Tanya Gina penuh selidik. “Bisa juga ia bisa juga tidak,” jawabku.
“Kau membuatku tersinggung,” ucapnya tampak sewot.
“Itulah buktinya, hehehehehehe kau pun langsung merasa tersinggung, padahal kamu bisa memilih untuk tidak tersinggung,” jelasku.
“Hem… terus gimana aku harus bersikap?” Tanya Gina tampak tak sabar.
“Pertanyaan itu untuk dirimu bukan untuk diriku,” jawabku.
“Ya… tapi bagaimana jika kamu ada di posisiku?” tanyanya lagi.
“Hahahaha
pertanyaan jebakan, tapi gak masalah. Begini, aku tak ingin menilai
laki-laki pilihan ayahmu, dan tak ingin menilai penilaianmu, tapi dalam
kasus ini, tampaknya kamu dan ayahmu harus menyamakan paradigma dulu.
Yang pasti ayahmu ingin bahagia dengan pernikahan itu, demikian juga
dengan dirimu, tapi tak ada yang tahu pasti kebahagiaan itu seperti apa.
Kebahagiaan itu seperti sebuah teka-teki yang cukup sulit, dimana sang
pembuatnya pun kadang-kadang tak bisa menjawabnya,” paparku.
“Tapi
intinya adalah kamu harus bertukar penilaian dengan ayahmu tentang
laki-laki itu, karena Cinta punya tiga sudut yang berbeda, Akal, Hati
dan Takdir” pungkasku.
“Itu tidak terlalu solutif, tapi akan saya coba,” ucap gina.
“Ok,
nanti ketemu lagi, satu atu dua hari lagi untuk membahas tahapan
selanjutnya, hehehehehe” jawabku sambil kami pun berlalu untuk berpisah.
(bersambung).
No comments:
Post a Comment