Thursday, October 15, 2015

Gina (5), TIGA SUDUT CINTA YANG BERBEDA

“Assalamualaikum, Sahabatku….!!!! Bolehkan aku mencurimu dari istrimu untuk sebentar saja, mungkin hanya 30 menit atau satu jam, aku hanya ingin bertutur cerita dan bertanya kabar tentang kelurga mungilmu, ya sekalian ingin memberikan  kado pernikahan yang tertunda, Kutunggu kamu dimana kamu bersedia menemui diriku,”

Fajar tampaknya baru saja mau menyingsing ketika kubaca sms itu dari Gina, hem….nama ini memang sempat hilang dalam hidupku walaupun tak sepenuhnya pergi. “Gina….Gina….!!!” keluhku dalam hati, “Ok…!!! Kita ketemu ditempat terdekat dengan dirimu ataupun dengan diriku, atau kita bisa ketemu di tengah-tengah, agar jarak perjalan kita jadi adil,” jawabku ketika itu.

“Hei…..!!! Kamu baru bangun…!!! Itu sms dua jam yang lalu, kemanakah dirimu ketika semua mata terpejam dan para malaikat menaruh perhatian lebih pada mereka yang terbangun dan berdoa di malam hari..!!! apakah Istrimu sudah merampas hak mu untuk begadang dengan kegelapan…., hehehehehe Pis” jawabmu. Dan aku hanya tersenyum.

“Jawabannya akan aku jelaskan nanti ketika kita ketemu, OK..!! Aku Shalat dulu,” jawabku singkat.

****
Sehabis shalat subuh, aku langsung bergerak menuju tempat yang telah kita sepakati, tempat itu tak jauh dari tempat tinggalku di kota pahlawan ini. Jalanan Kota Surabaya masih tampak sepi, walaupun tak benar-benar begitu sepi, sepinya kota sangat berbeda jauh dengan sepi nya desa ku, sepinya desaku adalah kesenyapan dan kesunyian, tapi sepinya kota seperti sebuah ilusi, hanya ada sedikit jeda di telinga kita dari suara kendaraan yang terus terdengar tanpa henti. Atau mungkin saja kota itu tak pernah benar-benar sepi.

Tak berapa lama kemudian aku pun tiba disebuah jalan yang kita sepakati sebagai sebuah pertemuan, aku tak melihat Gina di sana kecuali hanya beberapa orang yang tampak sedang olah raga bersama keluarga mereka, tapi ternyata tak semuanya begitu, ada beberapa pasangan yang masih cukup muda, tapi mereka tak seperti olahraga, walaupun pakaiannya pakaian olah raga, mereka seperti orang sedang berkencan duduk bermesraan di balik bunga-bunga dipinggir jalan yang tak terlalu rama. “Mungkin ini yang namanya kencan di pagi buta,” gumamku.

“Aku di sebuah café, diseberang jalan, kamu masuk saja, aku melihatmu dari sini,” sms Gina tak lama kemudian. Aku pun langsung memutar Arah menuju café yang gina maksud. Tak lama kemudian aku pun langsung masuk café tersebut dan kulihat Gina tampak duduk dengan seorang laki-laki setengah baya, ia pun langsung bangun dan tersenyum menyambutku. Namun aku masih ragu untuk mendekatinya, sebelum akhirnya Gina pun melambaikan tangannya memanggilku.

***
“Ini Ayah aku…!!! Dan ini sahabat yang aku ceritakan sama ayah,” ucap Gina memperkenalkan aku dengan ayahnya. Aku pun tampak gugup dan berusaha tersenyum seringan mungkin, tapi aku tak bisa. “Bantulah aku ya nak mas….!!!” Ucap ayahnya kepadaku sembari ia langsung pindah meja dan membiarkan aku dengan Gina berdua sebelum aku sempat berucap apa-apa. Ayah Gina berlalu dengan cepat sebelum aku mengerti sepenuhnya maksud dari kata-katanya.

“Gimana kabar Istimu Yan…!!” Tanya Gina membuka obrolan kita berdua.

“Kalau istriku tidak baik-baik saja, aku tidak ke sini menemui dirimu. Tapi kira-kira apa maksud ayah kamu minta bantuan ke aku..?” tanyaku penasaran.

“Hehehehehehe…!!! Udah abaikan saja,” ucap Gina singkat, namun aku menangkap ekspresi dari wajahnya bahwa ia tak menginginkan aku untuk benar-benar mengabaikannya. “Ceritakan dulu gimana rasanya berkeluarga, menikah atau pun punya anak,?” tanyanya singkat.

“jawab dulu pertanyaanku tadi,” aku pun balas bertanya.

“Jawabanmu ada hubungannya dengan jawabanku tadi,” jawab Gina. Dan aku sangat benci hal itu, tapi aku tak ingin memperpanjang waktu pertemuan itu, karena sebentar lagi kita akan sama-sama sibuk dengan aktivitas harian masing-masing.

“Berkeluarga itu Indah, Menikah itu seru dan menarik, Punya anak masih dalam tahap proses jadi rasanya saya masih belum tahu,” jawabku singkat. “Terus kenapa Ayahmu minta bantuan ke aku ?” aku kembali melempar pertanyaan yang sama.

“Ayah ingin menikahkan aku dengan laki-laki yang menurutnya baik,” ucapnya, tapi tampak tak begitu bersemangat. Aku hanya terdiam dan menunggu kata-kata selanjutnya, pikiranku juga mulai berusaha menebak-nebak arah pikirannya, tapi yang ada dalam benakku adalah pikiran nakalku. “mungkin Gina gak mau di jodohkan karena dia jatuh cinta padaku,” kataku dalam benakku. Aku benci kata-kata itu tapi ia muncul begitu saja dalam pikiranku. “Ya Allah penyakit lamaku kok kumat gini ya,” lanjutku dalam hati.

“Dulu aku berharap punya ayah begitu, sehingga tak memberikan beban terlalu besar dalam hidupku, yaitu memilih jodohku sendiri,” ucapku sambil mengambil gorengan kentang dan memasukkannya dalam mulutku tanpa beban.

“Masalahnya aku memiliki penilai berbeda dengan ayahku tentang laki-laki itu,” ucap gina kemudian.

“Hem….ini masalah paradigma dan pengalaman, perbedaan semacam itu biasa terjadi,” cetusku.

“Maksudmu terlalu susah ku cerna,” ucap Gina. “Coba Jelaskan,” pintanya

“Kamu dan Ayahmu mungkin ada perbedaan paradigma dalam hal ini, dan perbedaan itu yang menyebabkan perbedaan penilain dan sikap kalian berdua. Yang pertama perbedaan paradigma tentang menikah, perbedaan paradigma tentang hidup, tentang hidupmu, tentang kebahagiaanmu, dan yang paling penting tentang laki-laki itu,” jelasku.

“Yah hal itu harus ku akui, mungkin darahku sama dengan dia, tapi kita seperti berada di sudut yang berbeda, menatap dan menapaki dunia yang berbeda pula, tapi aku tak ingin mengecewakannya, tak ingin membantahnya,” ucap gina.

“Kalau kamu berpegang pada hal yang terakhir itu, hilangkan pikiranmu, pertimbanganmu, cita-citamu, dan keinginanmu, Lalu kau ikuti apa yang disarankan oleh ayahmu,” jawabku.

“Ayahku tidak seotoriter begitu, dia masih meminta pendapatku dan membuka ruang untuk bermusyarah, tapi aku tak mau memberikan argument hanya dengan bukti perasaan dan anggapan semata, tapi butuh penjelasan yang lebih dimengerti oleh ayah,” paparnya.

“Itulah masalahnya, perbedaan pengalaman, ayahmu punya pengalaman tentang pernikahan sementara kamu tidak, jadi mungkin banyak argumenmu yang akan mentah jika hanya berapologi menggunakan rasa dan cinta,” kataku.

“Karena itulah aku minta pendapatmu yang sudah punya pengalaman menikah,” ujar Gina tampak sewot.

“Hehehehehehe….!!! Aku juga kalah pengalaman dari ayahmu, aku masih baru, masih mencipi rasanya, belum mengerti sepenuhnya, belum memahami seluruh isinya, dan masih belum mendefinisikan sikap bahwa bertemu dengan hari ini adalah sebuah kesalahan atau kebenaran,” jelasku.

“Hahahahahahahahaha, maksudmu kamu takut di tuduh selingkuh dengan diriku,?” Tanya Gina sambil tertawa.

“Tidak sejauh itu, tapi nyaris begitu, hehehehe karena perempuan itu lebih suka bermain-main dengan anggapan yang dia sendiri tak terlalu yakin kebenarannya, apalagi membuktikannya, tapi perempuan kebanyakan menjadikan asumsi pribadinya sebagai sebuah postulat yang tak terbantahkan oleh laki-laki, dan disitulah laki-laki kehilangan pembelaannya,” ucapku.

“Hem…… apa hal itu juga berlaku dalam kasusku ini?” Tanya Gina penuh selidik. “Bisa juga ia bisa juga tidak,” jawabku.

“Kau membuatku tersinggung,” ucapnya tampak sewot.

“Itulah buktinya, hehehehehehe kau pun langsung merasa tersinggung, padahal kamu bisa memilih untuk tidak tersinggung,” jelasku.

“Hem… terus gimana aku harus bersikap?” Tanya Gina tampak tak sabar.

“Pertanyaan itu untuk dirimu bukan untuk diriku,” jawabku.

“Ya… tapi bagaimana jika kamu ada di posisiku?” tanyanya lagi.

“Hahahaha pertanyaan jebakan, tapi gak masalah. Begini, aku tak ingin menilai laki-laki pilihan ayahmu, dan tak ingin menilai penilaianmu, tapi dalam kasus ini, tampaknya kamu dan ayahmu harus menyamakan paradigma dulu. Yang pasti ayahmu ingin bahagia dengan pernikahan itu, demikian juga dengan dirimu, tapi tak ada yang tahu pasti kebahagiaan itu seperti apa. Kebahagiaan itu seperti sebuah teka-teki yang cukup sulit, dimana sang pembuatnya pun kadang-kadang tak bisa menjawabnya,” paparku.

“Tapi intinya adalah kamu harus bertukar penilaian dengan ayahmu tentang laki-laki itu, karena Cinta punya tiga sudut yang berbeda, Akal, Hati dan Takdir” pungkasku.

“Itu tidak terlalu solutif, tapi akan saya coba,”  ucap gina.

“Ok, nanti ketemu lagi, satu atu dua hari lagi untuk membahas tahapan selanjutnya, hehehehehe” jawabku sambil kami pun berlalu untuk berpisah. (bersambung).

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...