Wednesday, October 28, 2015

PELANGI KECIL


Anak kecil berambut basah. Lari ring dipinggir pantar. Ia menatap jauh melampaui samudra luas. “Warna langit berselimut jingga, ketika aku menyapa dunia”. Anak itu mulai merapal mantra mengusir jenuh yg mengusik.

“Anakku.....!”ucap sang ibu yg berdiri memegang tangannya. “Lihatlah......! mata merah yg membakar di sana. Apa kau melihat keindahan? Tanyanya.

“Iya ibu. Keindahan yang lebih teduh dari rumput yang hijau, keindahan yang lebih nyaman dari dawai angin kesejukan, keindahan yang lebih jelita dari bidadari angkasa, keindahan yang lebih menyentuh dari pada pasir di kakiku” ucap sang anak sambil menatap tajam pada mata itu.


“Tapi, itu api...anakku. Itu api, tapi manusia memberikan nama 'Senja' untuk keindahannya” Ucap ibunya.

Lalu.... Anak itu menggengam pasir dan menaburkannya pada cakrawala. Mengusir kabut tebal yg menghalangi senja. “Ibu .....!! aku tidak suka awan itu....” keluh anak itu.

"Itu air anakku"... Ucap ibunya.

“Aku tak suka air dengan warna gelap. Dia memalingkan keindahan senja. Aku ingin mengusirnya”. Rajuk anak itu.

Sang ibu hanya tersenyum. "Sabarlah sebentar anakku, sebentar saja,”. Beberapa saat kemudian anak itupun terdiam dan melukis pasir dengan kaki kananya. Wajahnya agak muram, pandangannya tertunduk kecewa melihat angkasa penuh angkara. Sesekali anak itu mengintip ke arah senja berada, lalu anak itu tertawa riang melompat lompat di atas pasir yg lembut. Matanya tertuju pada seluet warna pelangi yang melengkung indah diatas senja.

Lalu awan gelap menutup sebagian senja sehingga seperti mata yg manatap lembut pada anak kecil itu. “Ibu. ..Ibu.....senja dan awan itu lucu” ucapnya riang. Dia melompat-lompat girang kesana kemari.

"Begitulah anakku kadang api yang kita anggap membakar malah memberikan keindahan, dan air yang dianggap menyejukkan malah mengganggu pandangan, tapi lihatlah pelangi membutuhkan mereka berdua”. Jelas Sang Ibu sambil menatap tajam wajah anaknya yang lugu. “Pelangi itu adalah kekuatan anakku kekuatan sabar kita un.tuk menunggu rangkaian takdir Tuhan yang sudah ia tetapkan sejak dulu.” Lanjut sang ibu.

“Baiklah ibu, aku sekarang mulai sedikit mengerti, keindahan sederhana yang senantiasa ibu tampakkan kepadaku, Senja itu adalah ayah, awan gelap seperti itu ibu, dan pelangi itu adalah aku. Aku suka hal ini, karena disana aku menjadi yang terindah” ucap anak itu

“Tapi ingatlah anakku, bahwa ada sebuah musim dimana kamu tidak suka matahari datang, tapi senantiasa mengharap kedatangan senja dan awan.” Ketika musim itu tiba maka kau harus mulai mengenal cinta dan bersikaplah bijaksana.

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...