Anak kecil
berambut basah. Lari ring dipinggir pantar. Ia menatap jauh melampaui samudra
luas. “Warna langit berselimut jingga, ketika aku menyapa dunia”. Anak itu
mulai merapal mantra mengusir jenuh yg mengusik.
“Anakku.....!”ucap
sang ibu yg berdiri memegang tangannya. “Lihatlah......! mata merah yg membakar
di sana. Apa kau melihat keindahan? Tanyanya.
“Iya ibu.
Keindahan yang lebih teduh dari rumput yang hijau, keindahan yang lebih nyaman
dari dawai angin kesejukan, keindahan yang lebih jelita dari bidadari angkasa, keindahan
yang lebih menyentuh dari pada pasir di kakiku” ucap sang anak sambil menatap
tajam pada mata itu.
“Tapi, itu
api...anakku. Itu api, tapi manusia memberikan nama 'Senja' untuk keindahannya” Ucap ibunya.
Lalu....
Anak itu menggengam pasir dan menaburkannya pada cakrawala. Mengusir kabut
tebal yg menghalangi senja. “Ibu .....!! aku tidak suka awan itu....” keluh
anak itu.
"Itu
air anakku"... Ucap ibunya.
“Aku tak
suka air dengan warna gelap. Dia memalingkan keindahan senja. Aku ingin
mengusirnya”. Rajuk anak itu.
Sang ibu
hanya tersenyum. "Sabarlah sebentar anakku, sebentar saja,”. Beberapa saat
kemudian anak itupun terdiam dan melukis pasir dengan kaki kananya. Wajahnya agak
muram, pandangannya tertunduk kecewa melihat angkasa penuh angkara. Sesekali anak
itu mengintip ke arah senja berada, lalu anak itu tertawa riang melompat lompat
di atas pasir yg lembut. Matanya tertuju pada seluet warna pelangi yang
melengkung indah diatas senja.
Lalu awan
gelap menutup sebagian senja sehingga seperti mata yg manatap lembut pada anak
kecil itu. “Ibu. ..Ibu.....senja dan awan itu lucu” ucapnya riang. Dia melompat-lompat
girang kesana kemari.
"Begitulah
anakku kadang api yang kita anggap membakar malah memberikan keindahan, dan air yang
dianggap menyejukkan malah mengganggu pandangan, tapi lihatlah pelangi
membutuhkan mereka berdua”. Jelas Sang Ibu sambil menatap tajam wajah anaknya
yang lugu. “Pelangi itu adalah kekuatan anakku kekuatan sabar kita un.tuk
menunggu rangkaian takdir Tuhan yang sudah ia tetapkan sejak dulu.” Lanjut sang
ibu.
“Baiklah
ibu, aku sekarang mulai sedikit mengerti, keindahan sederhana yang senantiasa
ibu tampakkan kepadaku, Senja itu adalah ayah, awan gelap seperti itu ibu, dan
pelangi itu adalah aku. Aku suka hal ini, karena disana aku menjadi yang
terindah” ucap anak itu
“Tapi
ingatlah anakku, bahwa ada sebuah musim dimana kamu tidak suka matahari datang,
tapi senantiasa mengharap kedatangan senja dan awan.” Ketika musim itu tiba
maka kau harus mulai mengenal cinta dan bersikaplah bijaksana.

No comments:
Post a Comment