Monday, November 2, 2015

“THALES” THE FIRST PHILOSOPHERS

Pada tulisan sebelumnya kita telah belajar secara sederhana apa filsafat dan beberapa kelompok pemikirannya. Sebenarnya masih banyak yang belum dijelaskan seperti ciri-ciri berpikir filsafat, metode belajar filsafat dan lain sebagainya, tapi hal itu bisa kalian cari sendiri. Sekarang saatnya kita bercengkrama dengan Thales, sosok manusia fenomenal yang dikenal sebagai filosof pertama THE FIRST PHILOSOPHERS. 
Ada banyak literature yang mengatakan kalau filsafat itu lahir dari peradaban Yunani, dan dari sinilah Thales itu berasal. Thales adalah seorang yang berkembangsaan Miletus, sekarang daerah Turki, tetapi dulunya tergabung dalam Graecia Magna (Yunani Raya). Thales disebut-sebut sebagai tujuh orang bijaksana di Yunani pada abad ke-6 SM. 

Jauh sebelum thales lahir, masyarakat Yunani dikuasai oleh cara berpikir yang mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu. Artinya masyarakat masih percaya pada kekuatan Roh, Dewa dan lain sebagainya sebagai sesuatu di balik fakta dan kenyataan yang ada. Nah hal inilah yang memicu daya kritis Thales keluar, ia tak bisa menerima alasan-alasan yang tidak rasional. 


Sehingga pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala di dalamnya tanpa bersandar pada mitos melainkan pada rasio manusia. Selain sebagai filsuf, Thales juga dikenal sebagai ahli geometri, astronomi, dan politik. Bersama dengan Anaximandros dan Anaximenes, Thales digolongkan ke dalam Mazhab Miletos. 

Biografi Thales
Thales (624-546 SM) lahir di kota Miletos yang merupakan tanah perantauan orang-orang Yunani di Asia Kecil. Situasi Miletos yang makmur memungkinkan orang-orang di sana untuk mengisi waktu dengan berdiskusi dan berpikir tentang segala sesuatu. Hal itu merupakan awal dari kegiatan berfilsafat sehingga tidak mengherankan bahwa para filsuf Yunani pertama lahir di tempat ini. 

Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke Mesir. Di Mesir, Thales mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke Yunani. Ia dikatakan dapat mengukur piramida dari bayangannya saja. Selain itu, ia juga dapat mengukur jauhnya kapal di laut dari pantai. Kemudian Thales menjadi terkenal setelah berhail memprediksi terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Thales dapat melakukan prediksi tersebut karena ia mempelajari catatan-catatan astronomis yang tersimpan di Babilonia sejak 747 SM. 

sedangkan di dalam bidang politik, Thales pernah menjadi penasihat militer dan teknik dari Raja Krosus di Lydia. Selain itu, ia juga pernah menjadi penasihat politik bagi dua belas kota Iona. 

Pemikiran Thales
Berdasarkan kabar yang disampaikan oleh Aristoteles kepada kita bahwasannya Thales adalah salah satu filsuf yang mencari arkhê (prinsip) pertama semesta. Prinsip yang ia maksud adalah air. Thales beranggapan pada dasarnya unsur yang ada di alam semesta ini berasal dari air. Oleh karena itu, ia dijuluki sebagai salah satu filsuf alam. 

Thales tidak meninggalkan bukti-bukti tertulis mengenai pemikiran filsafatnya. Pemikiran Thales terutama didapatkan melalui tulisan Aristoteles tentang dirinya. Aristoteles mengatakan bahwa Thales adalah orang yang pertama kali memikirkan tentang asal mula terjadinya alam semesta. 

Mungkin terdengar aneh untuk kita bahwa unsur dasar alam semesta hanya berasal dari satu unsur saja, yang tak lain hanyalah air, tetapi ini juga bukan hipotesis yang bodoh untuk kita terima. Apalagi di zaman modern pernah berpandangan bahwa segala sesuatu terbuat dari hidrogen, yang dua pertiganya berasal dari air. 

Thales juga berpendapat bahwasannya “bumi itu berasal dari air“, selain kita bisa terima anggapan Thales bahwa segala sesuatu berasal dari air, pastilah dia melihat aspek fisis bumi yang setiap sisi daratan itu dikelilingi oleh lautan yang luas. Hasil pemikiran Thales tidaklah lahri dari rahim yang hampa akan fakta-fakta, tetapi itu hasil dari refleksi selama dia hidup. 

Hal ini sangat unik, tetapi kalau kita lihat dari faktor eksternalnya yaitu dia mengatakan air sebagai bahan dasar dari alam ini, bahwa dia adalah seseorang yang suka melakukan perjalanan dengan kapal dari Yunani ke Mesir, otomatis sepanjang perjalanan itu yang dilihatnya adalah air. Nah dari hal ini jelas bahwa faktor eksternal sangat mempengaruhi pemikiran Thales tersebut, yaitu faktor lingkungan. 

Beberapa pemikiran Thales yang lain adalah Thales pernah meramalkan suatu gerhana matahari pada tahun 585 SM, bisa diandaikan dia meramalkan hal ini setahun sebelumnya. Ini bukti kejeniusan dari seorang Thales, karena tak ada bukti sejarah yang pernah melakukan ini sebelumnya, walaupun Thales sendiri tidak begitu tahu persis kejadian fisis gerhana matahari. 

Dikabarkan Thales juga bersentuhan dengan ilmu ukur, dimana dia pernah mengukur tinggi piramid dengan bayangan piramid serta dia melakukan observasi penghitungan jarak perahu di lautan yang dilakukannya di dua tempat daratan. Banyak rumus ilmu ukur yang dibuat oleh Thales, namun rumus tersebut nampaknya masih banyak yang keliru. Selain itu dia juga mengatakan bahwa “dunia ini penuh dengan Dewa-Dewa”, Aristoteles mencoba memaknai hal ini dengan bumi ini memiliki jiwa seperti layaknya makhluk yang tinggal di dalamnya, ini dikarenakan bumi dapat menarik besi.Tentu kita tahu bahwasannya bumi memiliki medan magnet. 

Sedikit legenda mengenai Thales yang dituangkan oleh Aristoteles di dalam karyanya yang berjudul Politics, “Ia dicemoohkan karena kemiskinannya, dikarenakan banyak yang menganggap filsafat itu tidak berguna. Namun, karena dia menguasai astronomi, ketika terjadi musim dingin tentulah dia mengetahui akan terjadi panen buah zaitun di tahun depan. 

Demikianlah, dengan uang yang tidak banyak dia menyewa semua alat pengolah zaitun di Chios dan Miletus dengan harga yang murah karena tak seorang pun sedang membutuhkannya. Ketika panen tiba banyak orang yang membutuhkan alat itu dengan segera, ia pun akhirnya melepaskan alat-alat itu sesuka hatinya dan menghasilkan banyak uang. 

Jadi ia membuktikan pada dunia bahwa para filsuf bisa kaya dengan gampang jika mereka mau. Hanya saja ambisi seorang filsuf menuju ke arah yang lain.” Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga benda mati.Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan besi. 

Sumber utama : Dunia Sophie (Joestein Gaarder)

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...