Pada tulisan
sebelumnya kita telah belajar secara sederhana apa filsafat dan
beberapa kelompok pemikirannya. Sebenarnya masih banyak yang belum
dijelaskan seperti ciri-ciri berpikir filsafat, metode belajar filsafat
dan lain sebagainya, tapi hal itu bisa kalian cari sendiri. Sekarang
saatnya kita bercengkrama dengan Thales, sosok manusia fenomenal yang
dikenal sebagai filosof pertama THE FIRST PHILOSOPHERS.
Ada banyak
literature yang mengatakan kalau filsafat itu lahir dari peradaban
Yunani, dan dari sinilah Thales itu berasal. Thales adalah seorang yang
berkembangsaan Miletus, sekarang daerah Turki, tetapi dulunya tergabung
dalam Graecia Magna (Yunani Raya). Thales disebut-sebut sebagai tujuh
orang bijaksana di Yunani pada abad ke-6 SM.
Jauh
sebelum thales lahir, masyarakat Yunani dikuasai oleh cara berpikir
yang mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu. Artinya masyarakat
masih percaya pada kekuatan Roh, Dewa dan lain sebagainya sebagai
sesuatu di balik fakta dan kenyataan yang ada. Nah hal inilah yang
memicu daya kritis Thales keluar, ia tak bisa menerima alasan-alasan
yang tidak rasional.
Sehingga
pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama karena
mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala di dalamnya tanpa bersandar
pada mitos melainkan pada rasio manusia. Selain sebagai filsuf, Thales
juga dikenal sebagai ahli geometri, astronomi, dan politik. Bersama
dengan Anaximandros dan Anaximenes, Thales digolongkan ke dalam Mazhab
Miletos.
Biografi Thales
Thales
(624-546 SM) lahir di kota Miletos yang merupakan tanah perantauan
orang-orang Yunani di Asia Kecil. Situasi Miletos yang makmur
memungkinkan orang-orang di sana untuk mengisi waktu dengan berdiskusi
dan berpikir tentang segala sesuatu. Hal itu merupakan awal dari
kegiatan berfilsafat sehingga tidak mengherankan bahwa para filsuf
Yunani pertama lahir di tempat ini.
Thales
adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke Mesir. Di Mesir, Thales
mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke Yunani. Ia dikatakan dapat
mengukur piramida dari bayangannya saja. Selain itu, ia juga dapat
mengukur jauhnya kapal di laut dari pantai. Kemudian Thales menjadi
terkenal setelah berhail memprediksi terjadinya gerhana matahari pada
tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Thales dapat melakukan prediksi tersebut
karena ia mempelajari catatan-catatan astronomis yang tersimpan di
Babilonia sejak 747 SM.
sedangkan di
dalam bidang politik, Thales pernah menjadi penasihat militer dan
teknik dari Raja Krosus di Lydia. Selain itu, ia juga pernah menjadi
penasihat politik bagi dua belas kota Iona.
Pemikiran Thales
Berdasarkan
kabar yang disampaikan oleh Aristoteles kepada kita bahwasannya Thales
adalah salah satu filsuf yang mencari arkhê (prinsip) pertama semesta.
Prinsip yang ia maksud adalah air. Thales beranggapan pada dasarnya
unsur yang ada di alam semesta ini berasal dari air. Oleh karena itu, ia
dijuluki sebagai salah satu filsuf alam.
Thales tidak
meninggalkan bukti-bukti tertulis mengenai pemikiran filsafatnya.
Pemikiran Thales terutama didapatkan melalui tulisan Aristoteles tentang
dirinya. Aristoteles mengatakan bahwa Thales adalah orang yang pertama
kali memikirkan tentang asal mula terjadinya alam semesta.
Mungkin
terdengar aneh untuk kita bahwa unsur dasar alam semesta hanya berasal
dari satu unsur saja, yang tak lain hanyalah air, tetapi ini juga bukan
hipotesis yang bodoh untuk kita terima. Apalagi di zaman modern pernah
berpandangan bahwa segala sesuatu terbuat dari hidrogen, yang dua
pertiganya berasal dari air.
Thales juga
berpendapat bahwasannya “bumi itu berasal dari air“, selain kita bisa
terima anggapan Thales bahwa segala sesuatu berasal dari air, pastilah
dia melihat aspek fisis bumi yang setiap sisi daratan itu dikelilingi
oleh lautan yang luas. Hasil pemikiran Thales tidaklah lahri dari rahim
yang hampa akan fakta-fakta, tetapi itu hasil dari refleksi selama dia
hidup.
Hal ini
sangat unik, tetapi kalau kita lihat dari faktor eksternalnya yaitu dia
mengatakan air sebagai bahan dasar dari alam ini, bahwa dia adalah
seseorang yang suka melakukan perjalanan dengan kapal dari Yunani ke
Mesir, otomatis sepanjang perjalanan itu yang dilihatnya adalah air. Nah
dari hal ini jelas bahwa faktor eksternal sangat mempengaruhi pemikiran
Thales tersebut, yaitu faktor lingkungan.
Beberapa
pemikiran Thales yang lain adalah Thales pernah meramalkan suatu gerhana
matahari pada tahun 585 SM, bisa diandaikan dia meramalkan hal ini
setahun sebelumnya. Ini bukti kejeniusan dari seorang Thales, karena tak
ada bukti sejarah yang pernah melakukan ini sebelumnya, walaupun Thales
sendiri tidak begitu tahu persis kejadian fisis gerhana matahari.
Dikabarkan
Thales juga bersentuhan dengan ilmu ukur, dimana dia pernah mengukur
tinggi piramid dengan bayangan piramid serta dia melakukan observasi
penghitungan jarak perahu di lautan yang dilakukannya di dua tempat
daratan. Banyak rumus ilmu ukur yang dibuat oleh Thales, namun rumus
tersebut nampaknya masih banyak yang keliru. Selain itu dia juga
mengatakan bahwa “dunia ini penuh dengan Dewa-Dewa”, Aristoteles mencoba
memaknai hal ini dengan bumi ini memiliki jiwa seperti layaknya makhluk
yang tinggal di dalamnya, ini dikarenakan bumi dapat menarik besi.Tentu kita tahu bahwasannya bumi memiliki medan magnet.
Sedikit
legenda mengenai Thales yang dituangkan oleh Aristoteles di dalam
karyanya yang berjudul Politics, “Ia dicemoohkan karena kemiskinannya,
dikarenakan banyak yang menganggap filsafat itu tidak berguna. Namun,
karena dia menguasai astronomi, ketika terjadi musim dingin tentulah dia
mengetahui akan terjadi panen buah zaitun di tahun depan.
Demikianlah,
dengan uang yang tidak banyak dia menyewa semua alat pengolah zaitun di
Chios dan Miletus dengan harga yang murah karena tak seorang pun sedang
membutuhkannya. Ketika panen tiba banyak orang yang membutuhkan alat
itu dengan segera, ia pun akhirnya melepaskan alat-alat itu sesuka
hatinya dan menghasilkan banyak uang.
Jadi ia
membuktikan pada dunia bahwa para filsuf bisa kaya dengan gampang jika
mereka mau. Hanya saja ambisi seorang filsuf menuju ke arah yang lain.”
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa.
Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga benda mati.Teori
tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi Thales
didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu
menggerakkan besi.
Sumber utama : Dunia Sophie (Joestein Gaarder)
No comments:
Post a Comment