Sebagaimana
telah diceritakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa pada sejak dulu
manusia telah memiliki ketertarikan untuk menemukan penjelesan tertang
alam semesta dan sesuatu yang terjadi didalamnya, keingin tahuan
tersebut begitu sangat kuat sehingga mereka—berdasarkan kemampuannya
pada waktu itu—membuat semacam mitos-mitos dan meyakini kebenarannya
untuk memuaskan “rasa penasaran mereka”.
Lambat laut
proses berpikir manusia mulai beranjak mulai dari penjelasan yang
sifatnya motologis kepada penjelasan yang sifalnya alamiah. Orang
pertama kali yang melangkah kepada penjelasan alamiah ini adalah Thales
sebagai mana telah disinggung ditulisan sebelumnya.
Tetapi buah
pikiran Thales tidak kemudian diterima secara mentah-mentah, justru
pemikiran Thales itu membangunkan kesadaran manusia. Dan salah satu
pengikutnya adalah Anaximandros dengan, tetapi walaupun dia lama berguru pada
Thales, dia tidak bisa menjadi murid “yang baik”. Karena pemikirannya
bertentangan dengan pemikiran Thales
Biografi
Anaximandros
adalah murid Thales yang setia. Ia hidup sekitar 610-546 SM. Menurut
tradisi Yunani kuno buah dari pemikirannya Anaximandros yang
berjasa-jasa dibidang astronomi dan geografi perkembangan selanjutnya.
Salah satunya adalah Anaximandros pernah dikatakan sebagai orang yang
pertama kali membuat peta bumi. Usahanya dalam bidang geografi dapat
dilihat ketika ia memimpin ekspedisi dari Miletos untuk mendirikan kota
perantauan baru ke Apollonia di Laut Hitam.
Selain itu, Anaximandros telah menemukan, atau mengadaptasi, suatu jam matahari sederhana yang dinamakan gnomon.Ditambah
lagi, ia mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi.Kemudian ia juga
menyelidiki fenomena-fenomena alam seperti gerhana, petir, dan juga
mengenai asal mula kehidupan, termasuk asal-mula manusia.Kendati ia
lebih muda 15 tahun dari Thales, namun ia meninggal dua tahun sebelum
gurunya itu.
Pemikiran
Filosof yang
satu ini beranggapan yang jauh berbeda dengan Thales, walaupun punya
proyek yang sama dalam pemikirannya. Tapi dia menghasilkan kesimpulan
yang berbeda. Baginya dunia ini hanyalah salah satu dari banyak sekali
dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu yang disebutnya sebagai
yang tak terhingga.
Pemikiran ini sebenarnya merupakan kritik pada pandangan gurunya (Thales) mengenai air sebagai prinsip dasar (arche)
segala sesuatu. Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala
sesuatu, maka seharusnya air terdapat di dalam segala sesuatu, dan tidak
ada lagi zat yang berlawanan dengannya.
Namun
kenyataannya, air dan api saling berlawanan sehingga air bukanlah zat
yang ada di dalam segala sesuatu. Karena itu, Anaximandros berpendapat
bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut dari zat yang
empiris. Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang lebih mendalam dan
tidak dapat diamati oleh panca indera. Anaximandros mengatakan bahwa
prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron.
To apeiron berasal dari bahasa yunani a=tidak dan eras=batas.Ia
merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala
sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala
sesuatu. Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam
jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin,
yang kering dan yang basah, malam dan terang).Kemudian kepada prinsip
ini juga semua pada akhirnya akan kembali.
Tidak begitu
mudah memang untuk menjelaskan apa yang dia maksudkan dengan yang tak
terbatas, tapi tampaknya jelas bahwa dia tidak sedang memikirkan suatu
zat yang dikenal dengan cara seperti yang dibayangkan oleh gurunya.
Tetapi kita bisa menafsirkan bahwa yang dimaksudkannya adalah zat yang
merupakan sumber segala benda pastilah sesuatu yang berbeda dari
benda-benda yang diciptakannya.
Kenapa bisa
demikian? Karena menurut beliau semua ciptaan itu terbatas. Disamping
itu pikiran logisnya mengatakan bahwa sesuatu yang muncul sebelum dan
sesudah benda-benda tersebut pastilah “tak terbatas”. Dan jelas sekali
zat itu bukanlah sesuatu itu yang biasa seperti air. (dan barangkali
karena tidak menemukan yang “tak terbatas” itulah kemudian muncul konsep
“Tuhan” sekarang ini).
Tidak hanya
sampai disitu pemikiran Anaximandros, dia juga berbicara tentang
terjadinya makhluk hidup di bumi, menurut pendapatnya bahwa pada awalnya
bumi diliputi air semata-mata.Karena itu, makhluk hidup pertama yang
ada di bumi adalah hewan yang hidup dalam air, misalnya makhluk seperti
ikan.Karena panas yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan
menjadi daratan.
Di ditulah,
mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai berkembang
di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi
makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan asuhan
orang lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk
pertama yang naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di
daratan dan kemudian menjadi manusia.
Bahkan lebih jauh lagi, pikirannya sampai pada bagaimana proses bumi ini tercipta. Dengan prinsip to apeiron, ia membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros, dari to apeiron
berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus berperang satu sama
lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu
terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan
beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut
yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula.
Pecahan-pecahan
tersebut berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah
matahari, bulan, dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder,
yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh
karena kedudukannya berada pada pusat jagad raya, dengan jarak yang sama
dengan semua benda lain.
Mengenai
bumi, Thales telah menjelaskan bahwa bumi melayang di atas lautan. Akan
tetapi, perlu dijelaskan pula mengenai asal mula lautan. Anaximandros
menyatakan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh udara yang basah. Karena
berputar terus-menerus, maka berangsur-angsur bumi menjadi kering.
Akhirnya, tinggalah udara yang basah itu sebagai laut pada bumi.
Sumber utama : Dunia Sophie (Joestein Gaarder)
No comments:
Post a Comment