Monday, November 2, 2015

ANAXIMANDROS “YANG TAK TERBATAS”

Sebagaimana telah diceritakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa pada sejak dulu manusia telah memiliki ketertarikan untuk menemukan penjelesan tertang alam semesta dan sesuatu yang terjadi didalamnya, keingin tahuan tersebut begitu sangat kuat sehingga mereka—berdasarkan kemampuannya pada waktu itu—membuat semacam mitos-mitos dan meyakini kebenarannya untuk memuaskan “rasa penasaran mereka”.

Lambat laut proses berpikir manusia mulai beranjak mulai dari penjelasan yang sifatnya motologis kepada penjelasan yang sifalnya alamiah. Orang pertama kali yang melangkah kepada penjelasan alamiah ini adalah Thales sebagai mana telah disinggung ditulisan sebelumnya.

Tetapi buah pikiran Thales tidak kemudian diterima secara mentah-mentah, justru pemikiran Thales itu membangunkan kesadaran manusia. Dan salah satu pengikutnya adalah Anaximandros dengan, tetapi walaupun dia lama berguru pada Thales, dia tidak bisa menjadi murid “yang baik”. Karena pemikirannya bertentangan dengan pemikiran Thales


Biografi
Anaximandros adalah murid Thales yang setia. Ia hidup sekitar 610-546 SM. Menurut tradisi Yunani kuno buah dari pemikirannya Anaximandros yang berjasa-jasa dibidang astronomi dan geografi perkembangan selanjutnya. Salah satunya adalah Anaximandros pernah dikatakan sebagai orang yang pertama kali membuat peta bumi. Usahanya dalam bidang geografi dapat dilihat ketika ia memimpin ekspedisi dari Miletos untuk mendirikan kota perantauan baru ke Apollonia di Laut Hitam. 

Selain itu, Anaximandros telah menemukan, atau mengadaptasi, suatu jam matahari sederhana yang dinamakan gnomon.Ditambah lagi, ia mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi.Kemudian ia juga menyelidiki fenomena-fenomena alam seperti gerhana, petir, dan juga mengenai asal mula kehidupan, termasuk asal-mula manusia.Kendati ia lebih muda 15 tahun dari Thales, namun ia meninggal dua tahun sebelum gurunya itu.

Pemikiran
Filosof yang satu ini beranggapan yang jauh berbeda dengan Thales, walaupun punya proyek yang sama dalam pemikirannya. Tapi dia menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Baginya dunia ini hanyalah salah satu dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu yang disebutnya sebagai yang tak terhingga.
Pemikiran ini sebenarnya merupakan kritik pada pandangan gurunya (Thales) mengenai air sebagai prinsip dasar (arche) segala sesuatu. Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, maka seharusnya air terdapat di dalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat yang berlawanan dengannya.

Namun kenyataannya, air dan api saling berlawanan sehingga air bukanlah zat yang ada di dalam segala sesuatu. Karena itu, Anaximandros berpendapat bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut dari zat yang empiris. Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang lebih mendalam dan tidak dapat diamati oleh panca indera. Anaximandros mengatakan bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron.

To apeiron berasal dari bahasa yunani a=tidak dan eras=batas.Ia merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala sesuatu. Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang kering dan yang basah, malam dan terang).Kemudian kepada prinsip ini juga semua pada akhirnya akan kembali.

Tidak begitu mudah memang  untuk menjelaskan apa yang dia maksudkan dengan yang tak terbatas, tapi tampaknya jelas bahwa dia tidak sedang memikirkan suatu zat yang dikenal dengan cara seperti yang dibayangkan oleh gurunya. Tetapi kita bisa menafsirkan bahwa yang dimaksudkannya adalah zat yang merupakan sumber segala benda pastilah sesuatu yang berbeda dari benda-benda yang diciptakannya.

Kenapa bisa demikian? Karena menurut beliau semua ciptaan itu terbatas. Disamping itu pikiran logisnya mengatakan bahwa sesuatu yang muncul sebelum dan sesudah benda-benda tersebut pastilah “tak terbatas”. Dan jelas sekali zat itu bukanlah sesuatu itu yang biasa seperti air. (dan barangkali karena tidak menemukan yang “tak terbatas” itulah kemudian muncul konsep “Tuhan” sekarang ini).

Tidak hanya sampai disitu pemikiran Anaximandros, dia juga berbicara tentang terjadinya makhluk hidup di bumi, menurut pendapatnya bahwa pada awalnya bumi diliputi air semata-mata.Karena itu, makhluk hidup pertama yang ada di bumi adalah hewan yang hidup dalam air, misalnya makhluk seperti ikan.Karena panas yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan.

Di ditulah, mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai berkembang di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan asuhan orang lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk pertama yang naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di daratan dan kemudian menjadi manusia.
Bahkan lebih jauh lagi, pikirannya sampai pada bagaimana proses bumi ini tercipta. Dengan prinsip to apeiron, ia membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros, dari to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula.

Pecahan-pecahan tersebut berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada pada pusat jagad raya, dengan jarak yang sama dengan semua benda lain.

Mengenai bumi, Thales telah menjelaskan bahwa bumi melayang di atas lautan. Akan tetapi, perlu dijelaskan pula mengenai asal mula lautan. Anaximandros menyatakan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh udara yang basah. Karena berputar terus-menerus, maka berangsur-angsur bumi menjadi kering. Akhirnya, tinggalah udara yang basah itu sebagai laut pada bumi.

Sumber utama : Dunia Sophie (Joestein Gaarder)

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...