Sekeder
mereview kembali pemikiran sebelumnya tetang proyek pemikiran para
filosof dari miletus ini, bahwa mereka bertiga Thales, Anaximander dan
Anaximenes memiliki proyek yang sama, yaitu mencari tahu tentang Arche
atau zat pertama pembentuk semesta.
Seperti
halnya Anaximander yang bertolak belakang dengan gurunya Thales,
demikian juga dengan Anaximenes juga tak sependapat dengan gurunya
(Anaximander). Dan begitulah sejarah pemikiran manusia itu berlangsung
saling bertententangan atau lebih tepatnya saling menegasikan. Proses
ini disebut sebagai proses dialektika. Dan dengan proses itulah filsafat
lebih peka.
Biografi
Memang tak
lengkap rasanya ketika kita membahas filsuf alam tanpa tokoh yang satu
ini, dia tak lain adalah Anaximenes (570 SM). Dia juga berasal dari
daerah yang sama dengan pendahulunya yaitu dari Miletus. Tentang riwayat
hidupnya, tidak banyak yang diketahui.
Anaximenes
mulai terkenal sekitar tahun 545 SM, sedangkan tahun kematiannya
diperkirakan sekitar tahun 528/526 SM. Ia diketahui lebih muda dari
Anaximandros. Ia menulis satu buku, dan dari buku tersebut hanya satu
fragmen yang masih tersimpan hingga kini.
Pemikiran
Dalam proyek pemikirannya anaximenes, dia pada awalnya kesulitan untuk menerima pemikiran Anaximandros tentang to apeiron
yang terlalu metafisik karena baginya, bagaimana menjelaskan hubungan
saling mempengaruhi antara yang metafisik dengan yang fisik. Dari
itulah, Anaximenes tidak lagi melihat sesuatu yang metafisik sebagai
prinsip dasar segala sesuatu, melainkan kembali pada zat yang bersifat
fisik yakni udara.
Anaximenes
tentunya mengenal teori Thales menyangkut air, tapi ia tidak sependapat
dengan pemikiran sespuhnya itu. Menurutnya, udara merupakan zat yang
terdapat di dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun segala
sesuatu. Karena itu, Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip
dasar segala sesuatu. Udara adalah zat yang menyebabkan seluruh benda
muncul, telah muncul, atau akan muncul sebagai bentuk lain.
Perubahan udara menjadi benda-benda ini kemudian terkenal dengan prinsip “pemadatan dan pengenceran” (condensation and rarefaction).
Bila udara bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin,
air, tanah, dan kemudian batu Sebaliknya, bila udara mengalami
pengenceran, maka yang timbul adalah api. Proses pemadatan dan
pengenceran tersebut meliputi seluruh kejadian alam, sebagaimana air
dapat berubah menjadi es dan uap, dan bagaimana seluruh substansi lain
dibentuk dari kombinasi perubahan udara. Demikian ujar anaximenes kala
itu.
Baiklah mari
kita bedah bagaimana udara bisa berubah menjadi air, menurut anaxi
menes ketika air hujan turun, berarti air itu diperas dari udara, jika
air diperas lebih keras lagi, ia akan menjadi tanah. Begitulah pikirnya.
Dan dia juga mungkin pernah melihat bagaimana tanah danpsir terperas
keluar dari es yang meleleh. Dan dia juga beranggapan bahwa api adalah
udara yang dijernihkan.
Hal ini
merupakan prestasi dari pemikiran Anaximenes karena dia sudah mampu
mengutarakan kejadian fisis alam semesta, walaupun kita tahu pemikiran
dari Anaximenes ini terlalu spekulatif. Barangkali pula Anaximenes
mengira bahwa tanah, udara dan api semuanya itu dibutuhkan untuk
menciptakan kehidupan. Tapi sumber dari segala sesuatu itu adalah udara
atau uap.
Demikian
halnya dengan jiwa, Ia menganggap bahwa jiwa tak lain adalah udara,
ketika kita bernapas sebenarnya jiwa sedang dipupuk oleh udara.
Anaximenes beranggapan bumi juga bernapas layaknya manusia karena
udaralah yang menyelimuti bumi.
Jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan
udara saja. Buktinya, manusia perlu bernafas untuk mempertahankan
hidupnya. Jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga segala sesuatu
pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya. Karena itu,
untuk menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh.
Di sini, Anaximenes mengemukakan
persamaan antara tubuh manusiawi dengan jagat raya berdasarkan kesatuan
prinsip dasar yang sama, yakni udara. Tema tubuh sebagai mikrokosmos
(jagat raya kecil) yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos
adalah tema yang akan sering dibicarakan di dalam filsafat yunani. Akan
tetapi, Anaximenes belum menggunakan istilah-istilah tersebut di dalam
pemikiran filsafatnya.
Dalam teori astronominya ia berpendapat
bahwa bumi itu seperti meja bundar yang melayang di udara. Lalu
Matahari, bulan dan bintang ia gambarkan bagaikan daun yang sedang
melayang di udara. Saat malam hari Anaximenes menganggap bahwa matahari
sedang menghilang karena terhalang oleh bagian yang tinggi. Pada
dasarnya apa yang dihipotesiskan oleh Anaximenes tentu terdengar aneh
oleh kita, tetapi ini merupakan sebuah persiapan bagi manusia untuk
memahami lebih lanjut tentang rahasia alam.
Sumber Utama : Dunia Sophie (Joestein Gaarder)
No comments:
Post a Comment