Monday, November 2, 2015

ANAXIMENES : UDARA ZAT PEMBENTUK SEMESTA

Sekeder mereview kembali pemikiran sebelumnya tetang proyek pemikiran para filosof dari miletus ini, bahwa mereka bertiga Thales, Anaximander dan Anaximenes memiliki proyek yang sama, yaitu mencari tahu tentang Arche atau zat pertama pembentuk semesta.

Seperti halnya Anaximander yang bertolak belakang dengan gurunya Thales, demikian juga dengan Anaximenes juga tak sependapat dengan gurunya (Anaximander). Dan begitulah sejarah pemikiran manusia itu berlangsung saling bertententangan atau lebih tepatnya saling menegasikan. Proses ini disebut sebagai proses dialektika. Dan dengan proses itulah filsafat lebih peka.
 


Biografi
Memang tak lengkap rasanya ketika kita membahas filsuf alam tanpa tokoh yang satu ini, dia tak lain adalah Anaximenes (570 SM). Dia juga berasal dari daerah yang sama dengan pendahulunya yaitu dari Miletus. Tentang riwayat hidupnya, tidak banyak yang diketahui.

Anaximenes mulai terkenal sekitar tahun 545 SM, sedangkan tahun kematiannya diperkirakan sekitar tahun 528/526 SM. Ia diketahui lebih muda dari Anaximandros. Ia menulis satu buku, dan dari buku tersebut hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.

Pemikiran
Dalam proyek pemikirannya anaximenes, dia pada awalnya kesulitan untuk menerima pemikiran Anaximandros tentang to apeiron yang terlalu metafisik karena baginya, bagaimana menjelaskan hubungan saling mempengaruhi antara yang metafisik dengan yang fisik. Dari itulah, Anaximenes tidak lagi melihat sesuatu yang metafisik sebagai prinsip dasar segala sesuatu, melainkan kembali pada zat yang bersifat fisik yakni udara.

Anaximenes tentunya mengenal teori Thales menyangkut air, tapi ia tidak sependapat dengan pemikiran sespuhnya itu. Menurutnya, udara merupakan zat yang terdapat di dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun segala sesuatu. Karena itu, Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu. Udara adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul, atau akan muncul sebagai bentuk lain.

Perubahan udara menjadi benda-benda ini kemudian terkenal dengan prinsip “pemadatan dan pengenceran” (condensation and rarefaction). Bila udara bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah, dan kemudian batu Sebaliknya, bila udara mengalami pengenceran, maka yang timbul adalah api. Proses pemadatan dan pengenceran tersebut meliputi seluruh kejadian alam, sebagaimana air dapat berubah menjadi es dan uap, dan bagaimana seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi perubahan udara. Demikian ujar anaximenes kala itu.

Baiklah mari kita bedah bagaimana udara bisa berubah menjadi air, menurut anaxi menes ketika air hujan turun, berarti air itu diperas dari udara, jika air diperas lebih keras lagi, ia akan menjadi tanah. Begitulah pikirnya. Dan dia juga mungkin pernah melihat bagaimana tanah danpsir terperas keluar dari es yang meleleh. Dan dia juga beranggapan bahwa api adalah udara yang dijernihkan.

Hal ini merupakan prestasi dari pemikiran Anaximenes karena dia sudah mampu mengutarakan kejadian fisis alam semesta, walaupun kita tahu pemikiran dari Anaximenes ini terlalu spekulatif. Barangkali pula Anaximenes mengira bahwa tanah, udara dan api semuanya itu dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan. Tapi sumber dari segala sesuatu itu adalah udara atau uap.

Demikian halnya dengan jiwa, Ia menganggap bahwa jiwa tak lain adalah udara, ketika kita bernapas sebenarnya jiwa sedang dipupuk oleh udara. Anaximenes beranggapan  bumi juga bernapas layaknya manusia karena udaralah yang menyelimuti bumi.

Jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan udara saja. Buktinya, manusia perlu bernafas untuk mempertahankan hidupnya. Jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga segala sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya. Karena itu, untuk menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh. 

Di sini, Anaximenes mengemukakan persamaan antara tubuh manusiawi dengan jagat raya berdasarkan kesatuan prinsip dasar yang sama, yakni udara. Tema tubuh sebagai mikrokosmos (jagat raya kecil) yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos adalah tema yang akan sering dibicarakan di dalam filsafat yunani. Akan tetapi, Anaximenes belum menggunakan istilah-istilah tersebut di dalam pemikiran filsafatnya.

Dalam teori astronominya ia berpendapat bahwa bumi itu seperti meja bundar yang melayang di udara. Lalu Matahari, bulan dan bintang ia gambarkan bagaikan daun yang sedang melayang di udara. Saat malam hari Anaximenes menganggap bahwa matahari sedang menghilang karena terhalang oleh bagian yang tinggi. Pada dasarnya apa yang dihipotesiskan oleh Anaximenes tentu terdengar aneh oleh kita, tetapi ini merupakan sebuah persiapan bagi manusia untuk memahami lebih lanjut tentang rahasia alam.

Sumber Utama : Dunia Sophie (Joestein Gaarder)

No comments:

Post a Comment

MENIKAH, KAPAN YANG TERBAIK?

Menikah itu ibadah, itu pointnya. Maka ojo kesusu, ojo keburu-buru, alon, sabar, yang penting niat dan prosesnya gennah. Karena menika...