Filsafat
sebenarnya memiliki definisi yang sangat subjektif, sesuai dengan nama
dan perspektif berpikirnya filsafat tak menempatkan suatu rangkaian kata
yang menjadi sebuah proposisi tetap dalam mendefinisikan filsafat. Jadi
anda boleh cari tahu sendiri apa definisi filsafat yang tepat menurut
kita. Tapi ada kata kunci dari definisi filsafat yaitu, “cinta
kebijaksanaan”. Apapun definisi yang kita buat harus termuat atau
terkandung dua makna tersebut. Cinta dan Kebijaksanaan jugalah yang menjadi awal dari berpikir filsafat, dan hal itu juga yang menjadi tujuan akhirnya.
Selama ini para tokoh filsafat berbeda-beda dalam
mendefiniskan pengertian filsafat itu sendiri, tapi secara harfiah
(bahasa) mereka sepakat kalau filsafat adalah cinta kebijaksanaan.
Konsekswensi dari pemikiran filsafat haruslah berdasarkan pada cinta dan
kebijaksanaan, ataupun berusaha untuk cinta akan kebijaksanaan.
Sehingga laku kehidupannya yang dihasilkan dari kontemplasi filosofisnya
bermuatan kebijaksanaan. Bijak disana juga bijak disini, akhirnya bijak
juga dimana-mana. Nah tugas pertama kita sekarang sebagai pemula untuk
berfikir filsafat, adalah menemukan apa yang dimaksud dengan
kebijaksanaan itu sendiri.
Nah
kebijaksanaan ini juga memiliki banyak sudut pandang sehingga kita bisa
mencari dan menemukan maksud dan pengertiannya dari satu pintu ke pintu
yang lain. Karena terkadang bijak bagi anda belum tentu bijak bagi yang
lain. PR pertama adalah menemukan hasil pemikiran kita sehingga bisa
dikatakan Bijak untuk semuanya. Sulit….? Memang, namanya juga filsafat.
Lalu apa
yang dipikirkan oleh filsafat? Tepatnya apa saja yang kita pikirkan
sehingga bisa dikatakan berpikir filosofis? Jawaban dari pertanyaan ini
adalah tentang objek kajian filsafat. Yaitu ada dua macam, ada objek
forma dan objek materia. Obyek material (lapangan) filsafat itu bersifat
universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) dan yang
mungkin ada. Sedangkan Obyek forma (sudut pandangan) filsafat itu
bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu
yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar.
Jadi objek
yang dipikirkan oleh filsafat itu adalah segala sesuatu yang ada dan
yang mungkin ada, sedangkan cara berpikirnya adalah harus berpikir secar
mendalam dan mendasar. Sehingga menghasilkan pengertian-pengetian atau
hasil pemikirannya bisa menjadi sebuah proposisi yang kebenarannya
bersifat universal.
Salah satu
karakter orang yang berfikir filsafat ini adalah biasanya tidak hanya
berpikir tentang kulitnya saja anggap saja ia sedang melihat pisang,
maka orang itu akan memulai pertanyaan dalam pikirannya mulai dari apa
pisang itu, dari mana asal usulnya, apa manfaatnya, siapa yang
membuatnya dan pertanyaan lainnya terkait dengan pisang itu, sampai pada
pertanyaan apa benar ini disebut pisang, atau apakah benar pisang ini
benar-benar ada? Dan lainnya.
Rumit
memang, namanya juga filosof, dari kerumitan itu ia mendapatkan
kenikmatan dan kepuasan. Makanya orang yang suka berpikir filsafat
disebut filosof, orang bijak, ataupun orang sufi, Karena mereka tak
mudah bereaksi pada pada fakta-fakta yang ada, mereka juga tak mudah
membenarkan ataupun menyalahkan orang lain, sebelum mereka berpikir
tentang dimana sisi kebenaran dan kesalahannya.
Dari hari
pemikiran yang demikian maka orang itu akan bertingkah laku bijaksana
dalam hdiupnya, ia akan selalu hati-hati dalam tutur katanya, dalam
gerak gerik tubuhnya, dalam pola sikap dan sifatnya serta lain
sebagainya. Pokoknya dia lebih sibuk berpikir dari pada bergosip.
Intinya begitu. Nah sekarang adalah, sejak kapan sih orang itu mulai
mengenal berpikir filsafat? Siapa filosof pertama kali? Apa yang ia
pikirkan pertama kali? Nah pertanyaan ini akan di jawab pada tulisan
selanjutnya. Untuk sementara amalkan dulu cara berpikir filsafat. Jadi
pahami dulu sebelum anda menilai. Oke. Met berpikir

No comments:
Post a Comment